Movie Review - WARRIORS OF THE RAINBOW : SEEDIQ BALE

Butuh 3 tahun lamanya bagi saya untuk mencari film ini. Beneran. Saya sudah tahu soal kedasyatan film ini sejak film ini dirilis tahun 2011 silam. Tapi untuk bisa mendapatkan film ini bukanlah perkara mudah. Selain tidak beredar secara utuh dalam bentuk DVD bajakan (yang beredar hanya seri pertamanya saja), DVD originalnya pun tidak beredar di Indonesia mengingat konten film ini sangat brutal dan sadis.

Beruntunglah akhirnya semalam saya berhasil mendapatkan film ini secara "kebetulan" dan menontonnya hingga tuntas.

Warriors of the Rainbow : Seediq Bale merupakan film kolosal produksi Taiwan. Disutradarai Wei Te Sheng dan diproduseri John Woo, film ini mengangkat kisah nyata kepahlawanan Mona Rudao, pemimpin suku Seediq - sebuah suku pedalaman asli Taiwan - yang juga dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional Taiwan.

Durasi total film ini terbilang cukup panjang (4.5 jam). Saat dirilis, film ini dibagi dalam 2 bagian. Bagian pertama berjudul The Sun Flag dan bagian kedua berjudul The Rainbow Bridge.

Bagian pertama mengisahkan tentang berhasilnya Jepang menguasai Taiwan berkat Perjanjian Shimonoseki (1895). Saat mendarat di Taiwan, Jepang menyadari bahwa ada banyak suku pedalaman yang tinggal di hutan rimba Taiwan yang sangat luas kala itu. Karena suku tersebut sangat banyak dengan populasi yang sangat besar, serta dikuatirkan dapat mengganggu proses penjajahan,, maka Jepang memutuskan untuk mengendalikan mereka.

Di daerah pegunungan, terdapat Suku Seediq. Suku ini terbagi ke dalam 12 kelompok, yang mana ada 2 kelompok yang sudah bertahun-tahun bermusuhan, yaitu Kelompok Mahebu dan Toda. Adalah Mona Rudao dari Mahebu berseteru dengan Temu Walis dari Toda yang melanjutkan perseteruan abadi itu saat mereka memperebutkan daerah perburuan. Di tengah perselisihan tersebut, Jepang masuk dan menguasai perkampungan Seediq.

Dua puluh tahun kemudian, Pemerintah Jepang mendirikan Kota Wushe di kaki Gunung Shilai, kawasan yang dulunya milik Suku Seediq. Masyarakat Suku Seediq dijadikan buruh angkat kayu yang digaji murah serta diperlakukan tidak pantas oleh orang Jepang. Mona Rudao yang kala itu sudah diangkat sebagai Kepala Suku Mahebu juga diperlakukan sama. Diam-diam, dia telah menyusun rencana untuk memerdekakan sukunya. Mona mendekati 12 Kepala Suku Seediq agar bisa mendukungnya dalam pemberontakan pada Jepang, namun hanya 5 yang bersedia ikut. Dengan total 300 orang pendukung, pada tanggal 27 Oktober 1930, Mona Rudao dan Suku Seediq membantai para penduduk Kota Wushe - total 130 penduduk - yang mayoritas orang Jepang. Kejadian menjadi awal dari insiden yang dikenal Masyarakat Taiwan sebagai Insiden Wushe.

Bagian Kedua merupakan lanjutan dari Insiden Wushe. Setelah membumi-hanguskan Kota Wushe, Mona Rudao memimpin pasukannya melakukan gerilya di hutan untuk menghabisi tentara Jepang. Sementara itu, berita pemberotakan Suku Seediq didengar oleh Pemerintah Jepang yang ada di Taipei, sehingga mereka mengutus 3,000 orang tentaranya untuk menghadapi 300 orang Suku Seediq. Namun dengan kemampuan bertempur di tengah hutan, Suku Seediq justru mampu mengalahkan tentara Jepang yang bersenjata lengkap.

Jepang semakin kalap dan membombardir hutan untuk memancing Suku Seediq keluar. Dalam kondisi terjepit dan sudah tidak mungkin menang, sebagian wanita Suku Seediq yang putus asa memilih bunuh diri bersama anak-anak mereka. Sementara Mona Rudao terus memimpin kelompoknya untuk bertempur melawan Jepang dan menguasai kembali wilayah Mahebu miliknya.

Sementara itu, Temu Walis dan kelompoknya menolong Jepang untuk mengalahkan pasukan Mona Rudao. Dengan kekuatan yang cukup seimbang, kedua kelompok itu bertarung di tengah hutan. Tapi dalam sebuah pertempuran frontal, Temu Walis tewas di tangan Piho Sapo, orang kepercayaan Mona Rudao. Sementara itu, pasukan Mona Rudao makin tersudut oleh pasukan Jepang, yang memaksa mereka akhirnya melakukan tindakan yang tidak terduga yang kelak membuat mereka dikenal sepanjang masa sebagai Pahlawan Taiwan.

Film ini mengingatkan saya pada film Tjut Nya' Dien karena adegan perang di dalam hutannya yang cukup memikat. Film ini juga mengingatkan saya pada film The Last of the Mohichans dan 300 karena alurnya yang mirip seperti kedua film tersebut.

Film Warriors of the Rainbow : Seediq Bale merupakan film yang sangat sadis dan brutal karena menampilkan fakta otentik tentang cara membunuh Suku Seediq, yaitu memenggal kepala musuhnya. Jadi jangan kaget jika lebih dari setengah adegan pertempuran, Anda akan menyaksikan banyak adegan penggal kepala dan gorok leher.

Meski menampilkan banyak kekejaman, film ini juga menampilkan banyak adegan yang mengharukan. Ditambah dengan musik latar - yang kebanyakan lagu tradisional Suku Seediq - menambah suasana haru dalam film tersebut.

Secara umum, film ini saya katakan sangat menarik. Alurnya yang cepat, serta penggambaran perilaku orang Jepang memperlakukan Suku Seediq yang mereka jajah, sedikit-banyak membuat saya hampir menitikkan air mata karena terharu. Untuk menampilkan film ini otentik dan nyata, bahasa yang digunakan sepanjang film adalah bahasa Seediq dan Jepang.


ABOUT "SEEDIQ BALE" 
Suku Seediq adalah salah satu suku pedalaman Taiwan yang tinggal di daerah Nantou dan Hualien. Bahasa daerah mereka adalah bahasa Seediq, sedangkan keturunan Seediq disebut Seediq Bale (yang berarti Orang Seediq). Dalam sejarah, Suku Seediq diketahui sudah ada sejak Jaman Dinasti Qing (1644 - 1912).

Menurut para antropologis, Suku Seediq memiliki kesamaan budaya dengan Suku Taiya dan punya hubungan dengan Suku Truku. Meski demikian, ketiga suku tersebut memiliki perbedaan dalam gaya hidup. Salah satu ciri khas dan hal penting dari Suku Seediq adalah penggunaan tato pada kening dan dagu yang mereka sebut "Chucao", sebuah tradisi yang dilakukan pada para pemuda yang berhasil memenggal kepala musuhnya.

Dalam sejarah, Suku Seediq dikenal sebagai Suku yang gagah berani dan merupakan suku pedalaman Taiwan pertama yang berani melawan penjajahan Tentara Jepang. Insiden Wushe yang terjadi tahun 1930 merupakan bukti keberanian dan kegigihan Suku Seediq dalam memerangi Jepang yang menjajah wilayah mereka.


DO YOU KNOW? 
Semua pemain dalam film ini mayoritas bukan aktor dan aktris profesional, tapi orang-orang keturunan suku-suku asli Taiwan. Ada pun para pemerannya adalah :
Kiri : Wajah Mona Rudao yang asli; Kanan : Lin Ching Tai pemeran Mona Rudao Tua
LIN CHING TAI (pemeran Mona Rudao Tua) : adalah seorang Pendeta Presbyterian dan tidak punya pengalaman sebagai aktor sebelumnya. Dia keturunan Suku Atayal.
DA CHING (pemeran Mona Rudao Muda) : adalah seorang model yang juga keturunan Suku Atayal.
MA CHIH HSIANG (pemeran Temu Walis) adalah aktor televisi keturunan Suku Seediq daerah Yuli, Hualien.
LI YUAN JIE (pemeran Pawan Nawi) adalah remaja SMP dan anggota tim gulat sekolah. Dia adalah anak keturunan Suku Ren-Ai daerah Nantou.
BOKEH KOSANG (pemeran Dakis Nomin) adalah aktor televisi dari Suku Truku daerah Halien.

Kota Wushe dibuat ulang dengan sangat detil sesuai dengan bentuk aslinya tahun 1930. Kota tersebut dibuat di Linkou, New Taipei City. Kota tersebut dibuat dengan biaya NT$ 80 juta dan terdiri dari 36 rumah. Setelah shooting selesai dilakukan, kota tersebut sempat dijadikan wahana wisata untuk para pengunjung dan turis sebelum dibongkar.

Pembuatan film Warriors of the Rainbow menggunakan 400 teknisi dari Jepang, Taiwan, dan Hong Kong, serta mempekerjakan 1,500 aktor non-profesional (belum pernah berakting di depan kamera sebelumnya).

Total biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi kedua seri film ini adalah NT$ 750 juta (US$ 25 juta) dan merupakan film termahal yang pernah dibuat di Taiwan. Film ini mencetak box-office sebagai film terlaris dengan meraih perolehan total US$ 29 juta.

Film ini sempat mengundang beberapa kontroversi dari kalangan sejarawan Taiwan yang mempertanyakan keakuratan film ini. Meski sebagian dari mereka mengakui penggambaran perang dalam Insiden Wushe sangat nyata dan mirip dengan bukti dan catatan sejarah yang ada, namun ada beberapa bagian yang menjadi perdebatan di antara mereka. Salah satunya adalah adanya kelompok anak-anak pimpinan Pawan Nawi yang ikut berperang bersama Mona Rudao. Setelah film tersebut ditayangkan, muncul protes yang dilakukan oleh Sesepuh Suku Atayal yang menyebutkan kalau Mona Rudao bukan pahlawan seperti yang digambarkan dalam film, karena sesaat setelah Insiden Wushe, ada juga Insiden Qingshan di mana Mona Rudao ditengarai bekerja sama dengan Tentara Jepang menyerang perkampungan Suku Atayal dan menewaskan 26 wanita, anak-anak, dan orang tua. Meski banyak orang yang mengamini kejadian tersebut, namun para sesepuh dan masyarakat Suku Seediq menyebut tidak pernah mendengar ada Insiden Qingshan.

Film ini terpilih sebagai salah satu nominator di ajang Academy Awards untuk Kategori Best Foreign Languagae Film 2011. Film ini meraih penghargaan sebagai Best Feature Film dan Audience Choice Award di Ajang Taipei Golden Hoser Film Festival 2011.

Koin uang Taiwan bergambar wajah Mona Rudao
Koin mata uang Taiwan bergambar wajah Mona Rudao
Untuk menghormati perjuangan Mona Rudao, Pemerintah Taiwan membangun Patung Mona Rudao dan Monumen Insiden Wushe di Kota Nantou. Figur Mona Rudao sendiri pernah diabadikan dalam salah satu koin mata uang Taiwan.





NewerStories OlderStories Home

4 comments:

  1. bisakah mendapat videonya (bagan pertama dan bagian kedua). sempat punya yang bagian pertama, sayang file video sudah tidak dapat diputar lagi... download dimana?



    ReplyDelete
    Replies
    1. Buka film bagus 21 aja di st bisa di nonton filmnya sampai fulll..

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. http://cinemaindo.tv/warriors-of-the-rainbow-seediq-bale-part-2-2011-the-rainbow-bridge/

    ReplyDelete