Movie Review - THE SECOND COMING 3D (重生)

Film ini terbilang cukup luar biasa. Meski dipandang sebelah mata oleh para kritikus saat dirilis di Hong Kong, di luar dugaan film ini malah menjadi salah satu film box-office yang tidak saja menguasai tangga film Hong Kong, tetapi juga beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Singapura dan Taiwan.

Sutradara Herman Yau merupakan orang yang paling bertanggung jawab di balik kesuksesan film The Second Coming ini. Sejak tahun 1990-an, dia sudah terkenal sebagai sutradara spesialis film-film thriller dan horor yang berhasil membuat film-film yang memorabel serta legendaris. Beberapa karyanya yang hingga hari ini masih terkenal aadalah The Untold Story (1993) dan franchise film horor Troublesome Night yang dibuat hingga 19 sekuel.

Menggunakan formula cerita yang populer di era 90-an, Herman Yau pun kemudian membuat film The Second Coming. Meski alur cerita seperti ini terbilang "usang", namun di tangan Herman, justru menjadi hal baru yang menarik untuk ditonton.Untuk menarik perhatian penonton, film ini pun ditambahi dengan embel-embel "Inspired by True Event", yang akan membuat penonton penasaran.

Film hasil kerja sama perusahaan film Hong Kong, Taiwan, dan Singapura ini mengisahkan tentang sepasang suami-istri Imigran China, Ming (diperani Kenny Wong) dan Jen (Maggie Shiu) serta Sunny - anak sulung mereka - yang merantau ke Hong Kong di tahun 1960-an. Saat sedang bekerja di karaoke, Jen diperkosa oleh salah seorang tamu yang menyebabkan dirinya hamil. Jen berusaha menggugurkan kandungannya, namun justru membuatnya mengalami pendarahan hebat. Ming - dengan dibantu petugas rumah sakit - membawa Jen ke rumah sakit dengan ambulan. Tidak disangka di tengah perjalanan, ambulan yang membawa mereka mengalami kecelakaan.

Adegan pun maju 14 tahun kemudian, di mana kehidupan Ming dan Jen sudah mapan. Anak mereka Sunny (Don Li) kini telah berusia 20 tahun dan masih kuliah di Sekolah Kedokteran luar negeri. Dia pulang ke rumah guna merayakan ulang tahun ke-14 adiknya, Lucy (Joey Leong). Penonton pun kemudian paham kalau Lucy adalah anak hasil pemerkosaan dulu yang selamat saat diaborsi. Satu waktu, Lucy menemukan sebuah botol kaca yang terkubur dekat rumah, lalu membukanya.  Sejak itu, sikap Lucy berubah dan membahayakan kehidupan keluarganya.

Setelah menonton film ini, saya merasa banyak hal yang cukup membingungkan. Salah satunya adalah fakta yang ditampilkan di akhir cerita. Memang mengejutkan, namun masalahnya jadi tidak nyambung dengan cerita yang sudah dibangun sepanjang 90 menit di muka. Kengerian yang sudah dibangun dengan sangat apik di awal, mendadak buyar di akhir film. Ternyata ada dua cerita yang berbeda dalam film ini berjalan bersama secara paralel.

Secara umum, film ini terbilang cukup seram. Efek 3D yang ditampilkan pun sebenarnya bukan efek yang bagus-bagus amat. Satu-satunya adegan yang paling "nyata" dalam tontonan 3D ini adalah adegan saat Ming memotong alat kelamin pria yang memerkosa istrinya. Penggambaran pemotongan alat kelamin tersebut begitu nyata, sehingga membuat miris orang yang menontonnya. Tapi di luar itu, saya tidak melihat fungsi dan peran 3D dalam membuat film horor ini lebih seram.
NewerStories OlderStories Home

0 comments:

Post a Comment