Kemarin (30 Juli 2015), saya mendapatkan "kesempatan langka" menonton premier menonton tayangan perdana serial televisi Supergirl. Dibilang "kesempatan langka" karena memang jarang-jarang saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi "orang pertama" (apalagi di Indonesia) yang menyaksikan tayang perdana sebuah serial televisi Amerika Serikat.
 Seri perdana Supergirl ini berdurasi 46 menit, mengisahkan tentang kehidupan Kara Zor-El (Melissa Benoist), nama asli dari Supergirl. Diawali dengan kejadian beberapa saat sebelum kehancuran Planet Krypton, keluarga Zor-El mengungsikan anak mereka Kar-El yang masih bayi dengan memasukkannya ke pesawat kecil. Sementara itu, Kara (Melissa Weissman) - yang waktu itu masih berusia 10 tahun - ditugaskan keluarganya untuk menjaga dan melindungi Kar-El. Pada saat pesawat mereka meninggalkan Krypton, planet tersebut meledak dan gelombang ledakannya justru memisahkan pesawat Kar-El dan Kara. Pesawat Kar-El terbang ke bumi, sedangkan pesawat Kara terjebak di dalam Phantom Zone selama 10 tahun.

Dalam Phantom Zone, usia Kara tidak berubah. Saat berhasil keluar dari Phantom Zone, tanpa diketahui Kara, pesawatnya justru melepaskan pesawat penjara - yang berisi para kriminal Krypton - dari Phantom Zone. Kedua pesawat itu pun mendarat di bumi.

Di bumi, Kara berjumpa dengan Kar-El yang saat itu telah menjadi Superman. Superman kemudian membawa Kara ke keluarga Danvers, yang kemudian merawat Kara seperti anak mereka sendiri. Keluarga itu memiliki seorang anak perempuan bernama Alex Danvers (Chyler Leigh), yang kelak menjadi kakak tiri sekaligus sahabat Kara.

Empat belas tahun kemudian, Kara telah berusia 24 tahun dan bekerja di CatCo - perusahaan media cetak - sebagai Asisten Cat Grant (Calista Flockhart), Direktur CatCo (yang kelak akan menjadi orang ketiga dalam hubungan Clark Kent / Superman dengan Lois Lane).

Meski bekerja layaknya manusia biasa, Kara sangat ingin menolong orang seperti yang dilakukan saudara sepupunya (Superman). Alex melarang, karena kuatir dengan keselamatan Kara. Namun, dalam satu kesempatan, ketika pesawat yang ditumpangi Alex disabotase teroris, Kara muncul dan mencegah pesawat tersebut dari kehancuran. Namun kemunculan Kara justru membuatnya jadi sorotan media. Lebih parah lagi, keberadaannya diketahui para kriminal Krypton yang kabur dan bersembunyi di bumi. Mereka mendendam pada Alura Zor-El (Laura Benanti), Ibu Kara yang telah memenjarakan mereka. Karena dendam ini tidak bisa mereka lampiaskan pada Alura, maka Kara menjadi sasaran mereka.

Alex yang bekerja di Department of Extra-Normal Operations (DEO) - Departemen Rahasia Ameria Serikat yang menangani mahluk asing - meminta Atasannya, Hank Henshaw (David Harewood) untuk melindungi Kara. Alih-alih melindungi, DEO justru kemudian bekerja sama dengan Kara untuk menghadapi para kriminal Planet Krypton yang membahayakan keselamatan manusia di bumi.

Satu kata yang terucap selama menonton seri perdana Supergirl : WOW !!!

Yep.... Serial ini banyak menggunakan efek khusus yang memanjakan mata. Bahkan yang paling "mencengangkan" adalah efek saat Kara menyelamatkan pesawat terbang yang disabotase. Adegan luar biasa ini terlihat sangat riil, sehingga dapat membuat Anda lupa kalau yang Anda tonton itu serial televisi, bukan film layar lebar berbujet tinggi.

Secara umum, serial ini sangat menarik dan menghibur. Kekurangan pada episode ini terletak pada dialog-nya saja yang - menurut saya - terlalu klise dan terkesan seperti dialog film anak-anak. Alurnya pun sangat mudah ditebak dan mengalir datar-datar saja. Toh tujuannya hanya untuk menghibur.


Episode perdana Supergirl ini sendiri rencananya baru akan tayang di Amerika Serikat tangal 26 Oktober 2015 mendatang, dan rencananya Season Pertama serial ini akan tayang sebanyak 10 episode.



DO YOU KNOW? 
Supergirl adalah karakter superhero yang digambar oleh Al Plastino dan dipublikasikan oleh DC Comics. Karakter ini pertama kali tampil di Action Comics #252 (terbit : Mei 1959), dan diperkenalkan sebagai saudara sepupu Superman. Meski sudah malang-melintang di dunia komik cukup lama, karakter Kara Zor-El ini baru meraih kepopulerannya pada tahun 2004 ketika Wakil Presiden Senior dan Editor Eksekutif DC Comics Dan DiDio - bekerja sama dengan Editor Eddie Berganza dan penulis komik Jeph Loeb - memutuskan untuk membuat ulang latar belakang Supergirl dan memasukkannya sebagai bagian dalam cerita komik Superman / Batman (segmen "The Supergirl from Krypton"). Lewat segmen komik itulah, Supergirl kemudian populer. Sejak tahun 2011 hingga hari ini, komik Supergirl telah dirilis tersendiri.

Helen Slater sebagai Supergirl (1984)
Pada tahun 1984, Supergirl diadaptasi dalam bentuk film layar lebar berjudul sama. Helen Slater berperan sebagai Supergirl. Selain itu, film ini juga didukung oleh artis Faye Dunaway, Peter O'Tolle, Marc McClure, Simon Ward, Mia Farrow, dan Peter Cook. Sayangnya, film yang disutradarai Jeannot Szwarc ini kurang mendapatkan respon positif dari penonton dan tidak disukai para kritikus. Film ini bahkan masuk nominasi Worst Actress dan Worst Actor di Ajang Golden Rasberry Award. Diproduksi dengan biaya US$ 35 juta, film ini hanya meraup 14 juta. Akibat kerugian ini, Ilya Salking - pemilik lisensi untuk memproduksi film Superman dan Supergirl - harus menjual lisensinya tersebut kepada Cannon Group tahun 1986.

Helen Slater turut bergabung dalam serial televisi Supergirl, dengan berperan sebagai Eliza Danvers, ibu angkat Kara.
Dean Cain sebagai Superman di serial televisi Lois & Clark
Sedangkan untuk Jeremiah Danvers, ayah tiri Kara, terpilihlah Dean Cain. Dia sendiri sebelumnya memerani Superman / Clark Kent untuk serial televisi Lois & Clark : The New Adventures of Superman (tayang : 12 September 1993 - 14 Juni 1997).

Sebelumnya, Dean Cain dan Helen Slater pernah bertemu dalam beberapa episode serial televisi Smallville. Serial tersebut mengisahkan tentang kehidupan masa muda Superman.

Kostum Supergirl didesain Colleen Atwood, yang juga merupakan desainer kostum karakter Green Arrow di serial televisi Arrow (2012) dan The Flash (2014).

Sempat ada ide untuk mempertemukan Supergirl dengan Arrow dan The Flash dalam sebuah episode serial televisi Supergirl. Namun terkendala dengan lisensi, mengingat lisensi tayang Supergirl dimiliki CBS, sedangkan Arrow dan The Flash milik The CW. Hingga hari ini, ide itu masih didiskusikan. Meski tidak akan terealisasi di Season Pertama Supergirl, tapi bisa jadi pada season-season berikutnya. Kita tunggu saja....

Usia Laura Benanti - pemeran Alura Zor-El, Ibu Kara - hanya terpaut 9 tahun dengan Melissa Benoist, pemeran Kara Remaja.

Audisi pencarian pemeran utama Supergirl (Kara) memakan waktu 3 bulan, merupakan waktu audisi yang terbilang cukup lama. Melissa Benoist merupakan aktris pertama yang mengajukan diri sebagai pemeran Kara. Meski harus bersaing ketat dengan artis lain seperti Claire Holt, Gemma Atkinson, dan Elizabeth Lail, namun akhirnya Benoist terpilih sebagai pemeran Kara.

Skenario episode pertama Supergirl ditulis oleh Andrew Kreisberg, yang merupakan penulis sekaligus Produser Eksekutif Arrow dan The Flash. Sutradara episode perdana Supergirl adalah Glenn Winter, yang juga sutradara episode perdana serial Arrow, The Flash, dan Smallville. Sedangkan lokasi shooting serial perdana Supergirl kebanyakan dilakukan di lokasi yang sama dengan lokasi shooting serial Lois & Clark.

Serial televisi yang diproduksi dan ditayangkan di MTV ini merupakan adaptasi dan remake dari film layar lebar berjudul sama yang pernah populer 1996 silam. Meski sudah tayang sejak 30 Juni 2015 lalu, saya baru berkesempatan menontonnya semalam (29 Juli 2015). Tidak apalah... hanya beda sebulan, dan masih "fresh".

Bertema sama, serial bertotal 10 episode (untuk Season Pertama) ini mengisahkan cerita yang sama sekali baru, dan tidak melanjutkan alur cerita di film layar lebar. Para tokohnya pun baru, meski karakter dan peran mereka banyak yang mirip dengan karakter di film layar lebar.

Dua puluh tahun silam di Kota Lakewood, terjadi pembunuhan brutal terhadap 5 orang siswa Sekolah Lakewood. Pelakunya adalah seorang pria berwajah buruk setelah cintanya ditolak Daisy (Tracy Middendorf), salah seorang siswi cantik di sekolah tersebut. Untuk menghentikan pembunuhan itu, Daisy berhasil menjebak sang pria dan membuatnya hampir dibekuk penduduk kota. Pria itu meloncat ke Danau Lakewood dan menghilang.
Sejak itu, para penduduk Lakewood menganggap pria itu telah tewas. Daisy pun berganti nama menjadi Margaret Duval, menikah, dan hidup bahagia di kota tersebut.

Kejadian pembunuhan keji terhadap siswa Sekolah Lakewood terjadi lagi di masa kini. Bermula dengan munculnya rekaman video di YouTube yang mempertunjukkan ciuman sesama jenis antara Audrey Jensen (Bex Taylor-Klaus) dengan Rachel Murray (Sosie Bacon). Beberapa saat setelah itu, Nina Patterson (Bella Thorne) - pelaku unduh video itu - diteror oleh seorang pria lewat telepon. Teror yang semula dikiranya tindakan usil, berubah mengerikan setelah kepala Tyler O'Neill (Max Lloyd-Jones), kekasih Nina, dipenggal dan dilempar ke kolam renang Nina. Nina sendiri akhirnya tewas dibunuh oleh seseorang yang tidak dikenal.

Pembunuhan itu menghebohkan masyarakat Lakewood. Isu kembalinya pria yang mengejar Daisy pun muncul kembali.

Emma Duvall (Willa Fitsgerald), anak Margaret, mendapatkan teror telepon dari seorang pria misterius, yang mengarahkannya pada rahasia masa lalu ibunya. Semakin dekat Emma pada kejadian kelam masa muda ibunya, semakin banyak pula korban di sekitarnya yang tewas menggenaskan. Untuk menghentikan tindakan brutal sang pembunuh, Emma mengajak Audrey untuk bekerja sama mencari tahu siapa pelakunya. Tapi apakah Audrey dapat dipercaya? Atau jangan-jangan Audrey-lah sebenarnya pelaku pembunuhan itu, lantaran kesal setelah dipermalukan teman-teman sekolahnya?

Di sisi lain, Margaret pun mendapatkan teror serupa, di mana pelaku mengancam akan membunuh Emma, sama seperti saat dia membunuh Nina, dan teman-teman Emma yang lain. Margaret pun mengambil tindakan untuk melindungi anak semata wayangnya. Masalahnya, bagaimana caranya dia melindungi Emma jika dia sendiri tidak tahu siapa orang yang mengancam nyawa anaknya itu?

Apabila Anda pernah menonton versi layar lebarnya, cerita Scream versi televisi terasa sangat lamban. Hal ini terbilang wajar, mengingat cerita yang ditampilkan lebih panjang dan lebih detil mengenai latar-belakang para karakter. Berbeda dengan versi layar lebarnya di mana adegannya terbilang "sangat cepat" (mengingat durasi film yang terbatas), dan penjelasan latar belakang para karakter baru dilakukan di sekuel-sekuel film selanjutnya.

Meski terbilang cukup "setia" menggunakan plot asli versi layar lebar, Scream versi televisi banyak menampilkan hal-hal yang relevan dengan kondisi masa kini, misalnya penggunaan Sosial Media (bukan lagi surat dan foto seperti yang digunakan di Scream versi layar lebar), teknologi smartphone, serta adegan intim lesbian. Khusus untuk adegan intim lesbian (ciuman sesama jenis), serial ini menampilkannya cukup vulgar dengan durasi yang lumayan panjang dan beberapa kali. Adegan pembunuhannya pun terbilang cukup sadis, meski tidak sesadis serial televisi sejenis yang sudah dirilis sebelumnya (Harper's Island dan Lizzy Borden's Chronicles).

Rating serial ini terbilang cukup baik. Setiap episode serial ini rata-rata ditonton oleh 1 juta orang penonton Amerika Serikat. Dengan melihat animo penonton seperti itu, MTV menyetujui serial ini diperpanjang. Maka pada tanggal 29 Juli 2015, Season Kedua Scream pun mulai digarap.

Season pertama Scream : The TV Series mulai tayang 30 Juni 2015, dan akan berakhir 1 September 2015 mendatang. Saat artikel ini dibuat, serial tersebut baru tayang episode kelima.



ABOUT "SCREAM"
Jika pada tahun 1996 silam Anda telah berusia 17 tahun, ada kemungkinan Anda sudah menonton film ini. Ya, Scream merupakan film sukses yang mempopulerkan genre "teen-slasher" (genre film pembunuhan sadis dan brutal yang semua korbannya para remaja). Genre ini sangat populer di era 90-an. Banyak film bertema sejenis kemudian dirilis, mengekor kesuksesan Scream. Beberapa di antaranya yang cukup populer : Urban Legend (1998), I Know What You Did Last Summer (1997),  The Clown at Midnight (1999), Valentine (2001), The Texas Chainsaw Massacre (2003), House of Wax (2005), Black Christmas (2006), My Bloody Valentine (2009), dan Sorority Row (2009).

Dengan naskah skenario buatan Kevin Williamson dan disutradarai Wes Craven, film yang diperani Neve Campbell, Courteney Cox, Drew Barrymore, dan David Arquette ini mengisahkan tentang kasus pembunuhan sadis yang dilakukan oleh seorang pembunuh bertopeng (yang kelak dikenal dengan julukan "Ghostface"). Pembunuhan yang dilakukan di Kota Woodsboro, California, itu mengambil korban para remaja SMA Woodboro.

Meski terkesan pembunuhan acak, di akhir cerita terkuak kalau pembunuhan itu ada kaitannya dengan keluarga Sidney Prescott (Campbell), tokoh utama film tersebut.

Film yang dibuat dengan biaya US$ 15 juta ini meraup keuntungan finansial luar biasa, dengan perolehan lebih dari US$ 173 juta.

Selain sukses secara finansial, film ini pun mendapatkan respon yang sangat positif dari para kritikus serta meraih banyak penghargaan dari berbagai ajang film internasional. Beberapa diantaranya Saturn Award, MTV Movie Award, dan Gerardmer Film Festival.

Menanggapi sukses Scream, setahun kemudian, Scream 2 dirilis. Masih dengan skenario yang ditulis Kevin Williamson dan disutradarai Wes Craven, serta diperani para pemeran yang sama dengan tambahan karakter-karakter baru yang diperani Sarah Michelle Gellar, Jamie Kennedy, dan Liev Schreiber, film yang dirilis tanggal 12 Desember 1997 ini melanjutkan cerita seri pertama. Dikisahkan Sidney Prescott (Campbell) telah menjadi mahasiswi di Windsor College, dan menghadapi seorang pembunuh yang meniru gaya membunuh Ghostface. Bersama teman sekolahnya Randy Meeks (Kennedy), mantan Deputy Sheriff Dewey Riley (Arquette), dan Reporter Gale Weathers (Cox), mereka menyidiki pelaku pembunuhan tersebut.

Dibuat dengan dana yang lebih besar (US$ 24 juta), film ini ternyata tidak mampu meraup keuntungan lebih besar dari seri pertamanya (US$ 172.3 juta).

Tahun 2000, Scream 3 dirilis. Masih disutradarai Wes Craven, pembuatan skenario dialihkan pada Ehren Kruger. Neve Campbell, Courteney Cox, dan David Arquette masih tetap terlibat dalam film ini. Bersetting di Hollywood dengan waktu tiga tahun pasca kejadian Scream 2, seri ini mengisahkan tentang dirilisnya film Stab 3 yang ide ceritanya diangkat dari "kejadian nyata" yang terjadi di Woodsboro 4 tahun silam. Di tengah pemutaran perdana film tersebut, muncul pembunuh yang membantai seorang penonton di bioskop. Pembunuhan ini semata-mata dilakukan untuk menarik perhatian dan memancing Sidney Prescott (Campbell) - yang kala itu sedang mengisolasi diri - agar keluar dari persembunyiannya. Sekali lagi Prescott harus menghadapi Ghostface yang berusaha menghabisinya.

Meski dibuat dengan biaya yang lebih tinggi daripada 2 seri sebelumnya (US$ 40 juta), film ini tetap tidak mampu meraup keuntungan yang lebih tinggi, bahkan lebih buruk (US$ 161.8).

Semestinya Scream 3 adalah seri terakhir dan menjadi penutup dari rangkaian seri Scream (awalnya Scream direncanakan hanya dibuat dalam bentuk trilogi saja). Namun Bob Weinstein - selaku produser film - ingin membuat reboot dari Scream, sehingga muncullah Scream 4. Seri keempat ini awalnya akan dibuat sebagai seri pertaama dari trilogi kedua Scream. Namun karena perolehan film ini lebih buruk dari Scream 3, rencana produksi trilogi kedua ditunda.

Scream 4 dirilis tanggal 15 April 2011. Mengambil setting 11 tahun sejak kejadian di Scream 3, Sidney Prescott kembali lagi ke kampung halamannya di Woodsboro. Di sana, dia menemukan pembunuh berkedok Ghostface kembali membunuhi murid-murid SMA Woodsboro, termasuk sahabat sepupunya. Sidney - yang sudah tiga kali menghadapi Ghostface - turun tangan kembali menghadapi pembunuh tersebut. Hanya saja pelaku Ghostface menggunakan aturan dan trik baru yang sama sekali tidak diduga oleh Sidney.

Diproduksi dengan biaya US$ 40 juta, film ini hanya meraup keuntungan US$ 110 juta saja, jauh di bawah tiga seri sebelumnya.

Meski demikian, pihak produser masih cukup puas dengan hasil yang didapat, sehingga berencana untuk merilis lebih banyak lagi sekuel Scream. Penulis Skenario Kevin Williamson - yang juga menulis skenario untuk Scream 4 - telah membuat konsep cerita untuk Scream 5 dan Scream 6. Konsep kedua sekuel itu telah disetujui, dan tinggal proses penyelesaian skenarionya saja. Kapan kedua seri itu akan dirilis? Kita tunggu saja ....



DO YOU KNOW? 
Topeng pembunuh yang digunakan dalam Scream - The TV Series merupakan model topeng yang benar-benar baru, dan sangat berbeda dengan topeng Ghostface legendaris yang digunakan dalam keempat seri Scream. Hal ini terjadi karena pihak Fun World - selaku kreator, distributor, dan pemegang hak cipta topeng Ghostface - tidak memberikan izin kepada MTV untuk menggunakan topeng itu pada serial televisi Scream.
Topeng Ghostface di Scream versi layar lebar


Topeng Ghostface di Scream versi televisi
Meski menggunakan alur cerita yang mirip dengan versi layar lebarnya, Kreator Scream - The TV Series (Jill Blotevogel, Dan Dworkin, dan Jay Beattie) menjelaskan kalau detil serial tersebut banyak dipengaruhi oleh Kasus Pembunuhan Skylar Neese (Murder of Skylar Neese) yang terjadi 6 Juli 2012. Skylar Neese adalah gadis kelahiran Star City, West Virginia, yang dibunuh oleh dua orang sahabatnya - Rachel Shoaf dan Shelia Eddy - kemudian meninggalkan mayatnya di Wayne Township, Greene County, Pennsylvania. Diduga Skylar dibunuh dengan sadis pada tanggal 6 Juli 2012 malam. Mayatnya sendiri baru ditemukan kepolisian tanggal 16 Januari 2013 setelah Rachel Shoaf mengaku membunuh sahahatnya tersebut.

Para kru dan artis MTV seperti Chanel West Coast, Ashley Rickards, dan Tyler Posey tampil sebagai cameo di "pesta" mengenang kematian Nina (Episode Pertama Scream).

Meski Kevin Williamson adalah kreator film layar lebar dan telah menulis mayoritas skenario untuk semua sekuel Scream, dia sama sekali tidak terlibat dalam pembuatan serial televisi Scream. Hal yang sama juga terjadi pada Wes Craven yang tidak terlibat dalam proses pembuatan serial ini, meski pun pada awal rencana produksi, MTV sudah sempat melakukan pembicaraan dengannya.

Awalnya, pihak produser menginginkan Bella Thorne memerani karakter Emma Duvall. Namun dia merasa tidak cocok berperan sebagai "gadis baik-baik", sehingga memilih peran gadis "nakal yang menyebalkan". Karenanya dia menolak peran itu dan memilih peran Nina Patterson. Kelak, karakter Nina yang telah tewas di awal episode pertama Scream akan dimunculkan kembali untuk menjelaskan latar belakang kejadian di awal episode tersebut.

Karena Scream : The TV Series menggunakan alur cerita yang sama sekali baru, dengan karakter dan lokasi yang juga baru, maka produser serial ini memastikan kalau tidak akan ada satupun pemeran film layar lebar Scream yang akan bermain di serial ini, meski sebagai cameo sekali pun.

Shooting keseluruhan episode Scream : The TV Series dilakukan di Louisiana sejak 1 April hingga 20 Juli 2015.

Ada 2 artis pendukung serial ini yang mengundurkan diri sesaat sebelum Scream : The TV Series diproduksi : Joel Grestch dan Amy Forsyth. Joel Grestch tadinya dipercaya memerani Sheriff Clark Hudson. Namun karena adanya perbedaan pendapat dengan produser, Grestch meninggalkan proyek ini. Posisinya digantikan oleh Jason Wiles. Sedangkan Amy Forsyth dipercaya memerani Audrey Jensen. Sama seperti Grestch, Forsyth pun mengalami kendala dan masalah dengan produser, sehingga mundur dan digantikan Bex Taylor-Klaus.

Tidak lama lagi, kita akan menapaki bulan Agustus 2015. Semakin menuju akhir tahun, semakin banyak film-film box-office wajib nonton yang sudah menunggu untuk ditongkrongi. Nah, untuk bulan Agustus nanti, kira-kira film apa ya yang perlu menjadi highligh dalam daftar nonton kita?

1. DARK PLACES
Tanggal Rilis     : 7 Agustus 2015
Sutradara           : Gilles Paquet Brenner
Pemeran            : Charlize Theron, Christina Hendricks, Nicholas Hoult, Chloe Grace Moretz

Film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Gillian Flynn ini sebenarnya sudah rilis 8 April 2015 silam di Perancis. Film ini sendiri baru tayang secara internasional tanggal 7 Agustus 2015.
Thriller-misteri ini mengambil setting di daerah pedesaan di Kahnsas. Libby Day (Charlize Theron) adalah seorang gadis yang menjadi saksi mata pada pembantaian yang terjadi atas ibu dan adik-adiknya. Libby percaya bahwa pelaku kejahatan adalah para pengikut Ajaran Setan, dan kakaknya adalah salah satu pelakunya. Karena itu, Libby menyeret kakaknya ke meja hijau.

Dua puluh tahun kemudian, Libby berkenalan dengan sebuah kelompok penyidik kasus pembunuhan misterius bernama "The Kill Club". Setelah mendengar cerita Libby, mereka yakin kakak Libby bukan pelakunya, dan mereka setuju membantu Libby mengungkap pelaku pembunuhan sebenarnya. Untuk itu, Libby harus menceritakan kembali kejadian masa lalunya itu. Setelah menceritakan kembali kejadian waktu itu, dia menyadari dan belajar kalau apa yang diingatnya bukanlah apa yang dilihatnya.



2. FANTASTIC FOUR
Tanggal rilis         : 7 Agustus 2015
Sutradara              : Josh Trank
Pemeran                : Miles Teller, Michael B. Jordan, Kate Mara, Jamie Bell, Toby Kebbell

Ini adalah reboot pertama dan seri ketiga dari film layar lebar Fantastic Four. Sebelumnya, Fantastic Four pertama kali dirilis dalam bentuk layar lebar tahun 2005 dan - sekuelnya, Fantastic Four : Rise of the Silver Surfer - tahun 2007. Walau merupakan sekuel, film ini justru mengisahkan cerita awal dari terbentuknya Fantastic Four. Cerita dan para pemerannya sangat berbeda dengan Fantastic Four yang dirilis tahun 2005, meski musuhnya masih sama, yaitu Doctor Doom / Doom.
Dikisahkan pada sebuah masa, 4 orang mendapat misi ruang angkasa ke galaksi lain. Di sana, mereka mengalami mutasi sehingga tubuhnya mereka berubah dan masing-masing mendapatkan kemampuan unik : Reed Richards (Miller Teller) memiliki tubuh yang bisa melar. Johnny Storm (Michael B. Jordan) dapat berubah menjadi manusia api. Susan Storm (Kate Mara) menjadi wanita yang bisa menghilang. Dan Ben Grimm (Jamie Bell) menjadi manusia batu yang disebut The Thing.

Sementara itu, bumi menghadapi serangan dari seorang programer anti-sosial bernama Victor Domashev yang berniat menguasai dunia. Dia punya kepribadian lain yang membuatnya menjadi manusia monster bernama Doom. Fantastic Four pun bersatu untuk menghadapi musuh yang membahayakan dunia tersebut.



3. THE GIFT
Tanggal Rilis     : 7 Agustus 2015
Sutradara           : Joel Edgerton
Pemeran            : Jason Bateman, Rebecca Hall, Joel Edgerton

Simon (Bateman) dan Robyn (Hall) adalah pasangan suami-istri muda yang sangat berbahagia. Namun kebahagiaan mereka kemudian terusik dengan hadirnya seorang pria misterius bernama Gordo (Edgerton). Dia mengaku sebagai salah seorang teman satu sekolah dengan Simon. Tapi Simon sendiri tidak mengenali Gordo.

Sejak itu, mulailah serangkaian tindak teror menghantui pasangan suami-istri itu, mulai dari kemunculan Gordo yang tiba-tiba, hingga kiriman bingkisan misterius yang sangat mengganggu. Lambat-lain, Robyn mulai mencurigai hubungan antara Gordo dan suaminya. Hal ini menggelitiknya untuk menyidiki masa lalu Simon dan Gordo. Dari sanalah, Robyn menemukan masa lalu kelam sang suami yang membahayakan jiwanya.

Film ini rencananya akan dirilis terbatas di Amerika Serikat saja. Tapi tidak menutup kemungkinan, jika respon penonton cukup positif, film ini bisa dirilis secara internasional.



4. THE MAN FROM U.N.C.L.E.
Tanggal rilis         : 14 Agustus 2015
Sutradara              : Guy Ritchie
Pemeran               : Henry Cavill, Armie Hammer, Elizabeth Debicki, Hugh Grant, Alicia Vikander

Awalnya Tom Cruise akan bermain di film ini dan berperan sebagai Ilya Kuryakin, tapi kemudian mundur karena bentrok dengan film Mission : Impossible - Rogue Nation. Perannya kemudian diambil alih Armie Hammer.

Film yang diangkat dari serial televisi berjudul sama yang pernah populer di tahun 1964 - 1968 ini mengisahkan tentang sepak-terjang Napoleon Solo (Cavill) dan Illya Kuryakin (Hammer), duo agen rahasia dari organisasi U.N.C.L.E. (United Network Command for Law and Enforcement).

Bersetting tahun 1960, Solo dan Kuryakin mendapat tugas dari atasan mereka untuk menghentikan rencana sebuah organisasi kriminal yang berniat menghancurkan dunia dengan senjata nuklir. Untuk itu mereka ditugaskan melindungi seorang ilmuan nuklir yang tahu cara mengaktivasi senjata tersebut. Sayangnya, ilmuan itu sudah keburu diculik. Orang lain yang tahu mengenai senjata itu adalah Gaby Teller (Alicia Vikander), yang tidak lain adalah anak perempuan ilmuan itu. Solo dan Kuryakin harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran.



5. HITMAN : AGENT 47
Tangal rilis        : 21 Agustus 2015
Sutradara           : Aleksander Bach
Pemeran            : Rupert Friend, Hannah Ware, Zachary Quinto, Angelababy, Emilio Rivera

Film ini merupakan remake dari film berjudul sama (rilis tahun 2007, diperani Timothy Olyphant), juga merupakan adaptasi dari video game berjudul sama.

Dalam film ini, Rupert Friend berperan sebagai Agent 47, seorang agen rahasia yang bekerja dalam International Contracts Agency (ICA) yang bertugas menghabisi orang-orang yang mengancam keselamatan dunia.

Film ini menjadi film debut internasional Angelababy, model, penyanyi, dan artis Hong Kong yang populer saat ini.



6. SINISTER 2 
Tanggal rilis       : 21 Agustus 2015
Sutradara            : Ciaran Foy
Pemeran             : Shannyn Sossamon, James Ransone, Dartanian Sloan, Robert Daniel Sloan

Pasca sukses film Sinster (2012), produser film ini segera menyiapkan sekuelnya. Meski disutradarai sutradara yang berbeda, namun beberapa pemeran utamanya masih sama (Shannyn Sossamon dan James Ransone kembali memerani peranannya sebagai Courtney dan Deputy So & So).

Pasca kejadian yang menimpa keluarga Oswalt dalam film Sinister pertama, di film ini dikisahkan rumah tempat tinggal keluar Oswalt tersebut ditinggali keluarga baru : Emma (Laila Haley), seorang ibu yang sangat protektif dengan dua anak kembarnya Zach (Dartanian Sloan) dan Dylan (Robert Daniel Sloan). Mereka tidak menyadari kalau rumah itu ditinggali oleh mahluk bernama Bagul (Nicholas King) yang kemudian merasuki salah seorang anak kembar itu, dan memerintahkannya untuk menghabisi keluarganya, serta merekam aksi kejahatannya itu.



7. CROUCHING TIGER, HIDDEN DRAGON II : THE GREEN LEGEND
Tanggal rilis       : 28 Agustus 2015
Sutradara            : Yuen Woo Ping
Pemeran             : Donnie Yen, Michelle Yeoh, Harry Shum Jr, Jason Scott Lee, Chris Pang

Film kolaborasi Hong Kong - Hollywood ini merupakan sekuel dari Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000), dan merupakan adaptasi seri kelima dari novel serial Crane Iron karya Wang Dulu. Sutradara Ang Lee - yang menyutradarai seri pertamanya - tidak bersedia melanjutkan tugasnya di sekuel ini, sehingga kursi penyutradaraan diambil alih Yuen Woo Ping.

Dua puluh tahun pasca kejadian Crouching Tiger Hidden Dragon yang pertama, muncul pedang Green Destiny di dunia kang-aw. Siapapun yang menguasai pedang itu, akan menguasai dunia kang-aw dan menjadi pendekar terhebat di dunia. Banyak pendekar berlomba menguasai pedang itu, tapi kemudian Hades Dai (Harry Shum Jr) yang berhasil menguasainya. Berbekal pedang itu, dia pun menghabisi para pendekar kang-aw dan bermaksud menguasai dunia persilatan.

Yu Shu Lien (Yeoh) kemudian bergabung dengan Silent Wolf (Yen), Tie Fang (Juju Chan) dan Snow Vase (Natasha Liu Bordizzo) untuk merebut pedang itu dari tangan Dai. Tentu saja hal ini tidak mudah, karena mereka harus berhadapan dengan banyak pendekar kang-aw yang ingin menguasai pedang itu.



8. REGRESSION 
Tanggal rilis    : 28 Agustus 2015
Sutradara         : Alejandro Amenabar
Pemeran           : Ethan Hawke, Emma Watson, David Dencik, David Thewlis

Pasca usainya Harry Potter Saga, Emma Watson banyak terlihat bermain di film-film drama dan thriller. Nah, salah satunya adalah film ini.

Mengambil setting tahun 1990, Detektif Bruce Kenner (Hawke) mendapatkan tugas untuk menyidiki kasus Angela (Emma Watson) yang menuduh ayahnya, John Gray (David Dencik), telah melakukan tindakan asusila padanya. Baru saja Kenner berniat mengumpulkan data, Gray secara mengejutkan mengakui perbuatannya.

Penasaran dengan kebenaran pengakuan Gray, Kenner pun meminta bantuan psikolog Dr Raines (David Thewlis) untuk membuka ingatan Gray dan menyidiki apa yang terjadi sebenarnya. Penyidikan Dr Raines justru menyingkap misteri mengerikan yang tersimpan rapat dalam benak Gray.



Ada 4 orang kreator serial televisi favorit saya : Anthony E. Zuiker (kreator serial CSI), Chris Carter (kreator serial The X-Files), J.J. Abrams (kreator serial Alias dan Lost), dan Tim Kring (kreator serial Heroes dan Touch). Setiap kali seri terbaru produksi mereka dirilis, saya pasti akan  menontonnya (meski terkadang serial rilisan baru tersebut kurang disukai oleh para kritikus).

Baru-baru ini, sebuah serial baru kreasi Tim Kring dirilis. Judulnya Dig. Serial tersebut untuk saat ini saya sebut sebagai mini-seri, mengingat serial tersebut hanya diproduksi sebanyak 10 episode dan belum ada kejelasan apakah akan dilanjutkan atau tidak. Tayang di USA Network tanggal 5 Maret - 7 Mei 2015 silam, serial ini terbilang istimewa buat saya. Bukan saja lantaran Tim Kring yang membuatnya, namun alur ceritanya pun terbilang tidak umum buat serial televisi.

Serial bertema konspirasi internasional ini mengisahkan tentang Peter Conelly (Jason Isaacs), seorang Agen FBI yang sebelumnya pernah mendalami pelajaran keagamaan di Seminari Katolik. Pasca tewasnya anak Conelly dalam sebuah insiden, dia kemudian meminta mutasi. Permintaannya disetujui, dan dia kemudian dipindahkan ke Jerusalem sebagai Agen Khusus FBI untuk Diplomat Amerika Serikat, di bawah pimpinan Lynn Monahan (Anne Heche), yang diam-diam adalah kekasih Conelly.

Dalam sebuah pengejaran terhadap seorang tersangka kejahatan, secara tidak sengaja Conelly bertemu dengan Emma Wilson (Alison Sudol), seorang mahasiswi arkeolog yang sedang melakukan menggalian peninggalan sejarah Tabut Suci Nabi Daud. Pasca perkenalan itu, Wilson tiba-tiba tewas terbunuh, dan Conelly - sebagai orang terakhir yang bertemu dengannya - menjadi tersangka kasus pembunuhan itu. Untuk membersihkan namanya, Conelly - bersama Detektif Golan Cohen (Ori Pfeffer), polisi Jerusalem - menyidiki latar belakang Wilson sekaligus mengungkap pelaku pembunuhan sebenarnya.

Penyidikan mereka mengarah pada fakta kalau di balik kematian Wilson, terdapat konspirasi besar yang sedang terjadi dan dilakukan oleh sekelompok orang dari beberapa sekte agama (Yudais, Puritan, dan Evangelis). Kelompok tersebut sedang mempersiapkan rencana "pembersihan dunia" dengan mendirikan Kuil Puncak Gunung (Temple Mount) di Jerusalem. Mereka tidak bergerak sendirian, karena diam-diam banyak orang penting di Pemerintahan, yang juga mendukung gerakan tersebut. Siapapun yang mencoba menghalani gerak kelompok itu, akan dihabisi.

Tidak heran kalau usaha Conelly dan Cohen mengungkap kasus pembunuhan Wilson banyak mendapat hambatan, bahkan mereka nyaris tewas diserang orang-orang tidak dikenal. Pada akhirnya mereka menyadari siapa musuh sebenarnya, sehingga merubah strategi dan melakukan serangan balik.

Cerita yang diangkat dalam serial ini terbilang agak ekstrim dan sedikit kontroversi karena mengangkat tema agama. Bahkan beberapa bagian serial ini menyinggung hal-hal yang sangat sensitif dalam ajaran Agama tertentu, seperti nubuat akhir jaman yang dikaitkan dengan rencana "pembersihan dunia", juga kematian serta kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya.

Serial ini pun mengusung banyak adegan yang sama ekstrimnya dengan alur cerita serial ini sendiri. Salah satunya adalah penggambaran hubungan intim gay (pria dengan pria) yang ditampilkan sangat vulgar dan terbuka. Selain itu, banyak adegan dalam serial ini yang menampilkan adegan bugil pria dan wanita. Meski tidak ditampilkan dengan sangat eksplisit, namun banyaknya adegan tersebut dalam setiap episode jelas terbilang "cukup berlebihan" untuk sebuah serial televisi.

Meski pun ceritanya meluncur dengan sangat cepat, intens, dan menarik, serial ini punya beberapa kekurangan yang agak mengganggu saya saat menontonnya. Hal pertama yang sangat mengganjal adalah pekerjaan Peter Conelly sebagai Agen FBI. Bagaimana mungkin seorang Agen FBI punya otoritas untuk membawa senjata dan melakukan pengejaran terhadap kriminal di Jerusalem, yang notabene bukan wilayah otoritas kerja mereka? Lagian untuk penanganan kasus kriminal internasional, seharusnya merupakan otoritas CIA. Uniknya lagi, Connely digambarkan tidak bisa berbahasa Yahudi, yang notabene merupakan bahasa umum di Jerusalem. Sebaliknya, banyak orang Jerusalem yang bisa berbahasa Inggris, meski pada kenyataannya tidak demikian. (Ya... apa boleh buat, namanya juga film produksi Hollywood...)

Serial ini terbilang seru dan penuh kejutan. Tidak akan bosan untuk menontonnya karena alurnya yang sangat cepat dan selalu bikin penasaran. Jika Anda suka cerita bertema konspirasi agama (seperti film Da Vinci's Code atau Demons and Angels), pasti akan suka dengan serial ini.




Film bergenre found footage berikut ini adalah film yang - menurut saya - tergolong cukup ekstrim. Ditayangkan serentak di seluruh dunia 14 Agustus 2014 silam, film ini sebenarnya disambut biasa-biasa saja di Amerika Serikat. Respon yang luar biasa justru didapat film ini di luar negeri, terutama Eropah. Para kritikus film di luar Amerika Serikat membombardir film ini dengan banyak pujian dan tanggapan positif, sehingga wajar saja jika film ini jauh lebih populer di negara lain daripada negaranya sendiri.

Michael King (Shane Johnson) adalah seorang pria yang sangat bahagia karena memiliki istri cantik, Samantha (Cara Pifko) dan seorang anak perempuan berusia 10 tahun bernama Ellie (Ella Anderson). Namun kebahagiaannya lenyap ketika Samantha meninggal karena kecelakaan fatal.

Enam bulan setelah kematian Samantha, King membuat dokumentasi untuk membuktikan kalau Setan dan Tuhan itu tidak ada. Untuk itu, dia menjadikan dirinya subjek penelitian, dan mendalami berbagai ritual serta mantra sihir paling dasyat yang pernah ada. Awalnya, King mencibir ritual-ritual itu sebagai omong kosong. Tapi semakin banyak ritual yang dijalaninya, dirinya makin dikuasai banyak roh supranatural. Pada akhirnya, roh-roh itu mengendalikan dirinya dan membahayakan keselamatan keluarganya.

Adegan "konyol" bergaya ala film A Nighrmare on Elm Street
Jika Anda sudah cukup sering menonton film bergenre found-footage, sebenarnya tidak ada hal baru yang ditawarkan film ini. Justru yang tampak adalah kekonyolan. Salah satu adegan terkonyol adalah ketika Michael King berbicara menghadap televisi (yang menampilkan wajahnya), kemudian gambar yang ada di televisi itu berubah. Saya tidak mengerti, mengapa Sutradara David Jung memasukkan adegan "slapstick" bergaya A Nighmare on Elm Street ini ke dalam film. Meski tujuannya untuk menimbulkan efek seram, tapi adegan ini malah bisa membuat penonton tertawa.

Adegan lain yang sedikit mengganggu adalah perubahan sudut pengambilan gambar. Meski "ceritanya" Michael King sendiri yang merekam semua adegan (kecuali di awal-awal film di mana dia dibantu oleh seorang cameraman bernama Jordan), namun beberapa kali terdapat adegan di mana sudut pengambilan gambar bisa berubah dengan sendirinya. Salah satu contoh adalah saat King sedang menjahit luka di dadanya, kamera bisa tiba-tiba zoom-in dengan sendirinya. Pengambilan gambar demikian ini tidak mungkin terjadi jika tidak ada orang yang melakukannya. Masalahnya : saat kejadian Michael sedang sendirian dan kedua tangannya sedang digunakan untuk menjahit luka. Lalu bagaimana mungkin kamera bisa tiba-tiba menyorot luka itu dari dekat dengan sendirinya? Jika efek ini "disengaja" untuk menampilkan kemampuan roh jahat mengendalikan alat-alat berteknologi, rasanya terlalu berlebihan.

Adegan lain yang terbilang cukup "aneh" adalah ketika Michael digambarkan meloncat dari lantai atas rumahnya. Bagaimana mungkin Michael bisa jatuh tepat beberapa sentimeter dari kamera yang secara "kebetulan" menyorot ke lantai? Apa tidak aneh ada kamera di luar rumah yang dipersiapkan Michael King dengan menyorot ke lantai, dan posisinya sangat dekat dengan tempat Michael jatuh?

Di luar pertanyaan-pertanyaan itu, sebagai sebuah hiburan, The Possession of Michael King merupakan tontonan horor yang cukup menarik. Proses dirinya yang kerasukan terbilang sangat menarik untuk disimak, meski tidak dianjurkan untuk ditiru. Film ini pun penuh adegan yang terbilang sadis dan berdarah-darah yang ditampilkan dengan kamera yang menyorot sangat dekat (close-up), menimbulkan perasaan miris dan ngeri.

Buat penggemar film horor, film ini benar-benar bisa membangkitkan adrenalin Anda. Tapi buat para kritisi film, jangan nonton film ini. Terlalu banyak "celah" sepanjang film yang bisa membuat Anda ilfil.
Ini adalah serial yang sedang "happening" banget di Amerika Serikat. Ditayangkan di televisi tanggal 24 Juni 2015 silam, serial yang tadinya hanya akan ditayangkan dalam bentuk film-televisi (FTV) ini langsung menjadi pusat perhatian, sehingga USA Network - jaringan televisi yang memproduseri film ini - segera setuju untuk merilis film ini dalam bentuk serial televisi sejumlah 10 episode. Dan ketika episode kedua baru tayang, serial ini sudah mendapatkan lampu hijau untuk diperpanjang dan Season Kedua akan segera diproduksi.

Sentral cerita serial ini adalah pada Elliot Alderson (Rami Malek), seorang cyber-engineer yang tinggal di New York dan bekerja di perusahaan Allsafe Security, perusahaan pembuat program perlindungan sistem jaringan komputer di berbagai perusahaan besar. Tidak ada yang tahu, kalau di malam hari Alderson adalah seorang hacker ulung yang mampu menembus jaringan dan sistem pertahanan komputer mana pun. Kemampuannya ini dia gunakan justru untuk menghentikan aksi kejahatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab

Satu ketika, seseorang memasukkan virus ke dalam jaringan Allsafe, yang membuat jaringan induk perusahaan itu lumpuh, bahkan nyaris menghabisi semua sistem petahanan perusahaan tersebut. Alderson berhasil menghentikan dan mematikan penyebaran virus itu. Dari sana, dia mengetahui pelakunya adalah seseorang yang mengatasnamakan diri sebagai kelompok FSociety, sebuah kelompok anti-sosial anarkis misterius. Yang cukup mengagetkannya pula, FSociety ternyata mengetahui jati diri Alderson, dan tindakan mereka tersebut hanya sekedar tes untuk mengetahui kemampuan Alderson.

Dalam sebuah kesempatan, seorang pria misterius bernama Mr Robot (Christian Slater) menemui Alderson dan mengajaknya bergabung dengan kelompok FSociety untuk menghancurkan perusahaan-perusahaan besar (yang tidak lain adalah para klien Allsafe). Meski awalnya tidak setuju dengan rencana FSociety, namun perlahan-lahan Alderson menyadari kalau perusahaan-perusahaan besar yang menjadi klien perusahaannya ternyata adalah kelompok dan organisasi dunia yang sedang bersekutu untuk menghancurkan perekonomian dan menguasai dunia. Terlebih ketika Alderson mendapatkan tawaran bergabung dengan Evil Corp, salah satu klien perusahaannya, yang tidak lain adalah organisasi finansial terselubung yang bertujuan menguasai perekonomian dunia.

Meski mengisahkan lika-liku dan intrik dunia cyber, alur cerita serial ini terbilang cukup ringan dan mudah diikuti. Banyak kejutan yang mewarnai setiap episode Mr Robot, sehingga mampu membuat penasaran siapapun yang menontonnya.  Hal yang unik dari serial ini adalah penggunaan huruf dan warna vintage untuk judul pembuka serial ini yang sangat "70-an banget", sehingga terkesan serial ini produksi era tersebut.

Hingga artikel ini saya buat, serial ini baru tayang hingga seri keempat. Serial ini akan berakhir masa tayangnya tanggal 26 Agustus 2014.



DO YOU KNOW? 
Seperti yang saya tulis di atas, Mr Robot awalnya merupakan film-televisi produksi USA Network. Film ini awalya ditayangkan secara online dan VOD (Video on Demand; tayang sesuai permintaan di jaringan televisi kabel) pada tanggal 27 Mei 2015. Di luar dugaan film tersebut mendapatkan respon yang sangat positif dari penonton sehingga ditayangkan di televisi kabel pada tanggal 24 Juni 2015.

Produksi film-televisi (yang merupakan episode perdana) Mr Robot dilakukan tanggal 13 April 2015. Setelah film itu sukses, dan diputuskan dibuat dalam bentuk serial televisi berjumlah 10 episode, barulah pembuatan serial ini dikebut. Jadi tidak heran jika sampai saat ini - meski serialnya sudah tayang di televisi - proses pembuatan serial ini masing berlangsung.

Episode perdana Mr Robot ditonton lebih dari 2.7 juta penonton Amerika Serikat.

Setiap episode serial Mr Robot menggunakan judul berformat mirip nama file sebuah program. Misalnya episode perdana serial ini berjudul "eps 1.0_hellofriend.mov", serial berikutnya adalah "eps 1.1_ones-and-zer0es.mpeg", "eps 1.2_d3bug.mkv", dan lain-lain.

Awalnya, serial Mr Robot hanya akan dibuat dalam bentuk mini-seri 10 episode saja. Namun karena animo penonton dan rating yang sangat tinggi, maka akhirnya produksi film ini diputuskan diperpanjang 10 episode lagi (Season Kedua).

Meski setting tempat disebutkan New York, namun keseluruhan shooting serial ini dilakukan di Manhattan dan Coney Island.



Beberapa waktu belakangan ini, kita sering mendengar berita aksi brutal yang dilakukan anggota geng motor. Aksi mereka terbilang sadis dan brutal cukup meresahkan sehingga polisi dan warga sering turun tangan guna menghentikan tindakan anarkis mereka tersebut. Geng motor tidak saja menjadi masalah di Indonesia, tetapi juga di Amerika Serikat.


Jika dibandingkan dengan Indonesia, aksi geng motor di Negara Paman Sam tersebut jauh lebih brutal, sadis, dan kejam. Serial ini mengetengahkan bagaimana upaya polisi Amerika Serikat dalam menghentikan aksi brotal geng motor tersebut. Ditayangkan 24 Februari - 31 Maret 2015 silam, mini seri bertotal 6 episode ini diangkat dari kisah nyata Charles Falco, seorang mantan kriminal yang bertobat, kemudian membantu polisi menyusup masuk ke dalam jaringan geng motor terkejam di Amerika Serikat, Vagos. Serial ini merupakan adaptasi dari memoar Vagos, Mongols, and Outlaws : My Infiltration of America's Deadliest Biker Gangs yang ditulis oleh Falco. Dalam proses pembuatan serial ini, Falco ikut serta berperan dalam proses penulisan skenario dan penasihat ahli.

Bersetting waktu tahun 2003 - 2006, dikisahkan Charles Falco (Damon Runyan) adalah seorang perampok, pengedar dan pengguna narkoba. Setelah digerebek polisi, atas tindakan kejahatan yang dilakukannya, Falco terancam penjara 20 tahun. Dia kemudian didekati Bureau of Alcohol, Tobacco, Firearms, and Explosives (ATF) - organisasi anti-kejahatan Amerika Serikat yang bernaung di bawah Departmen Kehakiman Amerika Serikat - yang menawarinya keringanan - bahkan pembebasan tanpa syarat - dari hukuman, asal bersedia menyusup ke dalam kelompok Vagos, salah satu geng motor terkejam di Amerika Serikat. Geng tersebut barusan menghabisi salah satu anggota ATF yang menyusup ke dalam geng tersebut, sehingga mereka butuh orang pengganti untuk bisa melanjutkan tugas menghancurkan kelompok tersebut.

Agar lolos dari jerat hukuman, Falco akhirnya bersedia menyusup ke dalam Vagos dan mengumpulkan informasi untuk ATF. Tanpa pengalaman, tanpa bantuan, dan tanpa pengetahuan apapun tentang geng motor, Falco nekat mendekati kelompok Vagos di sebuah bar yang biasa dikunjungi Vagos. Lewat kemampuan persuasifnya, dia berhasil mengambil hati Kid (Stephen Eric McIntyre), Wakil Presiden Vagos, yang kemudian setuju menerima Falco sebagai Prospect (calon anggota Vagos).

Selanjutnya Falco berhasil mendekati Stella (Kiran Friesen), istri Schizo (Paulino Nunes) - Presiden Vagos - berkat hubungan baiknya dengan Susanna (Melani Scrofano), sahabat Stella. Sejak akrab dengan Stella dan mengenal Schizo itulah Falco berhasil mendapatkan kepercayaan dari Vagos. Tidak menunggu lama, jenjang "karir" Falco menanjak sangat cepat dalam kelompok Vagos, dan menjadikan orang kepercayaan Schizo. Sambil menjalani aksi-aksi kejam bersama Vagos, Falco terus memberikan informasi kepada ATF, yang kemudian mereka gunakan untuk menghancurkan kelompok geng motor tersebut. Tentu saja tindakan Falco bukannya tanpa risiko. Karena memiliki reputasi yang sangat kejam dan tanpa ampun, nyawa Falco setiap hari menjadi taruhan.



ABOUT "CHARLES FALCO"
Namanya terbilang cukup "ditakuti" oleh para geng motor di Amerika Serikat. Tidak saja karena pernah punya reputasi sebagai orang paling berpengaruh di Vagos, tetapi juga seorang agen pemerintah yang pernah menghancurkan beberapa geng motor tersadis di Amerika Serikat, yaitu Vagos, Mongols, dan Outlaws.

The Real Charles Falco
Lahir di Los Angeles, Amerika Serikat, Falco adalah seorang kriminal kambuhan dan pelaku beberapa perampokan yang terjadi di beberapa wilayah di Amerika Serikat. Atas tindakannya, dia dijerat hukuman penjara seumur hidup. Agar terbebas dari hukuman, Falco setuju bekerja sama dengan ATF untuk menyusup ke dalam geng motor. Geng motor pertama yang berhasil disusupinya adalah Vagos Motorcycle Club, yang merupakan salah satu geng motor tersadis di Amerika Serikat. Dia tercatat sebagai agen pemerintah ketiga yang berhasil ke dalam geng tersebut (dua di antaranya telah tewas dibunuh oleh geng motor tersebut).  Berkat kemampuannya beradaptasi, Falco berhasil mendapatkan kepercayaan dari geng motor itu, dan dipercaya memimpin Vagos Cabang Victorville, California. Setelah tiga tahun menjalani tugas penyusupannya, Falco berhasil mencegah banyak aksi tindakan kejahatan geng itu, dan membantu ATF menangkapi para pemimpin tertinggi Vagos. Atas perbuatannya, Falco menjadi target pembunuhan kelompok Vagos.

Buku yang ditulis Charles Falco
ATF melindungi Falco dengan memasukkannya ke dalam program perlindungan saksi mata (Witness Protection Program). Beberapa tahun setelah dalam persembunyian, Falco kemudian memutuskan untuk membantu ATF kembali dengan menyusup ke dalam geng Mongols dan Outlaws. Sama seperti Vagos, setelah beberapa tahun bergabung ke dalam geng itu, Falco berhasil mencegah dan menghentikan tindak kejahatan yang dilakukan kelompok itu.

Pasca kesuksesannya itu, Falco memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya lagi di Sekolah Hukum. Kini Falco bekerja sebagai staf ahli di Departemen Kehakiman Amerika Serikat serta Instruktur di Institut Kepolisian Amerika Serikat.



ABOUT VAGOS MOTORCYCLE CLUB
Banyak orang hanya mengenal Hells Angels sebagai geng motor tersadis dan terkejam di Amerika Serikat. Padahal di luar geng itu, ada banyak geng motor lain yang jauh lebih sadis dan kejam, meski namanya tidak sepopuler Hells Angels. Salah satunya adalah Vagos Motorcycle Club yang punya sejarah sama panjang dan sadisnya dengan Hells Angels.

Vagos merupakan pecahan dari The Psychos, sebuah geng motor di Fontana, California. Geng motor yang berdiri pada tahun 1948 tersebut mengalami perpecahan di dalamnya, di mana muncul ketidakpuasan beberapa orang anggota suku Hispanik dalam kelompok itu yang merasa dianak-tirikan. Mereka keluar dari kelompok itu pada tahun 1965 dan mendirikan kelompok Vagos MC (Vagos Motorcycle Club). Berpusat di Riverside, California, kelompok ini berkembang sangat cepat dan menjadi geng motor pertama di Amerika Serikat yang keberadaan meluas secara internasional hingga Hawaii, Kanada, Meksiko, Swedia, dan Australia.
Logo Vagos Motorcycle Club

Nama "Vagos" sendiri berasal dari bahasa Spanyol yang berarti "Gipsi Pengembara". Logo kelompok ini menggunakan gambar Loki, Dewa Kejahatan. Para anggota Vagos mayoritas adalah pria suku Kaukasia dan Hispanik.

Di Amerika Serikat sendiri, Vagos memiliki 47 cabang (Chapters) yang tersebar di sebagian besar California Selatan. Yang terbesar adalah di High Desert, California dan Inland Empire, khususnya di Riverside County dan San Bernardico County.

Vagos MC adalah salah satu kelompok geng motor yang paling ditakuti di Amerika Serikat karena serangkaian tindakan kejahatan yang mereka lakukan. Salah satu aksi paling kejam yang pernah mereka lakukan adalah pembunuhan atas seorang mahasiswa University of New Mexico pada tahun 1974 (William Velten). Meski 4 orang pelaku kejahatan - Richard Greer, Ronald Keine, Clarence Smith, dan Thomas Gladish - terbukti bersalah dan divonis penjara 17 bulan, namun keempatnya bebas dan tidak pernah menjalani hukuman tersebut.

Sepanjang tahun 1998 - 2004, Vagos melakukan berbagai tindakan kriminal seperti penculikan, penjualan narkoba, jual-beli senjata, dan perampokan, yang membuat mereka sebagai geng motor paling ditakuti di Amerika Serikat. Pada tanggal 9 Maret 2006, ATF - bekerja sama dengan kepolisian lokal California - menjalankan misi "Operation 22 Green". Operasi yang merupakan operasi terbesar (karena melibatkan lebih dari 700 anggota gabungan ATF dan kepolisian) berhasil menciduk 25 anggota Vagos (sebagian besar adalah pemimpin tertinggi Vagos), lengkap dengan bukti-bukti kejahatan seperti senjata api, narkoba, kendaraan curian, serta uang hasil kejahatan. Pasca operasi itu, gerak Vagos menjadi sangat dibatasi dan diawasi oleh pihak berwajib. Aksi kejahatan mereka masih belum berhenti dan terus berlanjut hingga hari ini (meski dalam skala kecil).








Film yang diperani banyak artis ternama ternyata tidak menjamin film tersebut adalah film bagus. Film-film yang diperani banyak artis ternama seringkali jeblok dan gagal di pasaran. Alasan utamanya adalah karena kebanyakan artis tersebut ingin mendapatkan porsi tampil yang berlebih dalam film itu. Rebut-rebutan porsi tampil itu membuat para penulis sering mengganti skenario berkali-kali, mengakomodir maunya para artis tersebut. Sutradara pun harus mengulang mengambil gambar berkali-kali akibat perubahan tersebut. Hal ini tidak saja membuat cerita film itu jadi tidak fokus, tetapi juga membuat alur ceritanya pun tidak jelas juntrungannya, dan kualitas film pun menjadi sangat buruk, membuat penonton bingung dan kecewa saat menontonnya.

Berikut ini ada 10 film yang didukung banyak artis ternama, namun pada akhirnya menjadi film dengan kualitas terburuk yang dikecam para penonton dan kritikus. Film apa sajakah itu?


1. THE BIG WEDDING (2013)
Berada di posisi puncak adalah film ini. Diperani kumpulan aktor dan aktris populer (Robin Williams, Robert de Niro, Katherine Heigl, Diane Keaton, Amanda Seyfried, dan Susan Sarandon), film yang disutradarai Justin Zackman dan dirilis tanggal 26 April 2013 ini merupakan remake dari film Perancis sukses berjudul Mon Frere Se Marie (My Brother is Getting Married).

Film ini mengisahkan tentang sebuah mantan sepasang suami - istri (Donald Robert Griffin, diperani Robert De Niro, dan Beatrice Martha McBride yang diperani Susan Sarandon) yang baru-baru ini bercerai. Mereka mempersiapkan pernikahan untuk anak angkat mereka, Alejandro Soto Griffin (Ben Barnes). Sepanjang persiapan pernikahan itu, kekacauan demi kekacauan timbul dan nyaris membuat pernikahan Alejandro berantakan.

Meski diadaptasi dari film komedi sukses dan diperani aktor serta aktris top dunia, tidak menjamin film ini bagus. Para penonton sulit untuk menyebut film ini sebagai "film komedi yang menghibur". Alih-alih menghibur, film ini sarat dengan banyolan garing dan akting yang buruk. Bahkan mungkin Anda sendiri tidak akan percaya kalau film seburuk ini diperani para aktor dan aktris terbaik di kelasnya.



2. MARS ATTACK ! (1996)
Di atas kertas, film ini menjanjikan sebuah tontonan yang mengasyikkan. Betapa tidak? Sutradaranya Tim Burton (yang sebelumnya populer dengan film Batman dan Edward Scissorhand). Pemerannya? Banyak !!! Jack Nicholson, Glenn Close, Annette Bening, Pierce Brosnan, Danny DeVito, Sarah Jessica Parker, Michael J. Fox, Tom Jones, Natalie Portman, Jim Brown, Lisa Marie Smith, dan Lukas Haas adalah "sebagian" dari rentetan daftar aktor dan aktris papan atas yang mendukung film ini.

Film yang diadaptasi dari permainan kartu bertitel sama yang sangat populer di era itu mengisahkan tentang serangan mahluk Mars ke Amerika Serikat. Dibuat dengan bujet cukup besar (US$ 70 juta), film ini merupakan film gagal yang luar biasa parah (hanya meraup penghasilan finansial US$ 37.77 juta). Apa yang salah dengan film ini?

Dibuat dengan efek khusus layaknya film fiksi-ilmiah era 1950-an, Mars Attack! jauh dari kata "canggih" dan "keren". Penggambaran mahluknya kurang meyakinkan. Akting para pemainnya pun sangat parah. Bahkan Jack Nicholson yang biasa tampil sangat baik di film-film yang diperaninya, justru seperti aktor amatir yang baru bermain film.

Kalau sedang mencari referensi film buruk termahal yang pernah dibuat, dapat dipastikan film ini berada di peringkat teratas daftar pencarian Anda.



3. MIXED NUTS (1994)
Aktor Steve Martin bertemu Adam Sandler dalam satu film. Wow.... !!! Tentu film yang diperani dua komedian papan atas ini dipastikan akan jadi film yang keren banget. Tapi justru yang terjadi kebalikannya. Inilah yang terjadi di film Mixed Nuts. Selain diperani kedua aktor itu, film ini juga diperani banyak aktor dan aktris papan atas lain, seperti Juliette Lewis, Haley Joel Osment, Liev Schreiber, Anthony LaPaglia, Rita Wilson, Madeline Kahn, dan Garry Shandling.

Film bertema Natal yang berpusat pada bantuan Hotline di Malam Natal ini seharusnya menjadi sebuah film komedi keluarga yang dapat dengan nyaman disaksikan oleh semua anggota keluarga. Namun justru film ini penuh adegan satir, komedi kasar, dan tidak pantas menjadi tontonan anak di bawah umur.  Pertemuan Steve Martin dan Adam Sandler di film ini pun tidak membuatnya enak ditonton, tapi justru sangat mengganggu.



4. BOBBY (2006)
Film yang disutradarai Emilio Estevez ini mengisahkan latar belakang tindakan pembunuhan berencana terhadap Senator Robert F. Kennedy yang terjadi tanggal 5 Juni 1968 di dapur Hotel Ambassador, Los Angeles. Terdapat 22 orang yang berperan di balik aksi itu, dan film ini mengulas latar belakang hidup mereka semua !!!

Bisa Anda bayangkan, bagaimana pusingnya memahami kehidupan 22 orang dan hubungan mereka dengan kasus pembunuhan berencana Robert F. Kennedy dalam durasi 116 menit. Meski diperani oleh aktor dan aktris ternama sekali pun, film yang sudah berat ini tetap saja terasa berat dan memusingkan. Padahal pemerannya bukan artis sembarangan : Laurence Fishburn, Sharon Stone, Shia LaBeouf, William H. Macy, Martin Sheen, Demi Moore, Christian Slater, Asthon Kutcher, Lindsay Lohan, Elijah Wood,  Helen Hunt, Anthony Hopkins, Heather Graham, dan Emilio Estevez sendiri.

Banyak penonton mengakui kalau semua artis di film ini bermain sangat cemerlang. Sayang, film ini tidak didukung dengan cerita yang fokus dan mudah dicerna.



5. MASKED AND ANONYMOUS (2003)
Film drama-komedi arahan sutradara Larry Charles ini mengisahkan tentang ikon legenda rock, Jack Fate (Bob Dylan) yang baru keluar dari penjara, kemudian melakukan konser amal guna membantu Komunitas Masyarakat Amerika Utara yang sedang dilanda krisis politik.

Dengan naskah ditulis sendiri oleh Bob Dylan - yang bekerja sama dengan Rene Fontaine - film ini dipenuh oleh aktor dan aktris kawakan yang membuat film ini berpotensi disebut sebagai film "berkelas dan berkualitas" : Jeff Bridges, John Goodman, Penelope Cruz, Luke Wilson, Ed Harris, Val Kilmer, Jessica Lange, Christian Slater, dan Mickey Rourke.

Tapi siapa sangka film ini justru menjadi "salah satu kandidat film terburuk sepanjang masa"? Ya, begitulah pendapat Lou Leminick dari New York Post saat mengomentari film ini. Bob Dylan memang seorang penyanyi dan penulis lagu yang paling dihormati saat ini. Dan sepertinya dunia Dylan hanyalah dunia musik. Dunia film bukan bagian hidupnya, meski film itu didukung oleh aktor dan aktris kawakan sekalipun. Film ini dipenuhi dialog yang merupakan penggalan dari lirik-lirik lagu Dylan. Mungkin maunya terlihat puitis. Alhasil yang terjadi malah dialog bermakna kosong yang tidak "nyambung" dengan konteks filmnya. 



6. ALL THE KING'S MEN (2006)
Diadaptasi dari novel peraih penghargaan Pulitzer tahun 1946 yang ditulis Robert Penn Warren. Disutradarai Steven Zaillian, sutradara brilian yang sudah merilis film-film box office dan meraih penghargaan Oscar, Golden Glove, dan BAFTA seperti Awakenings, Gangs of New York, dan Moneyball. Juga diperani para aktor dan aktris papan atas Hollywood : Jude Law, Kate Winslet, Anthony Hopkins, Sean Penn, Mark Ruffalo, dan Patricia Clarkson. Siapa yang berani bilang film berdurasi 125 menit ini bukan jagoan dalam Academy Award dan tangga box-office?

Faktanya, film yang mengisahkan tentang kisah hidup fiksi politikus Huey Long adalah film gagal. Dibuat dengan bujet US$ 55 juta, film ini hanya meraup perolehan finansial US$ 7.7 juta saja. Kegagalan film ini sangat jelas pada skenarionya yang penuh celah, lamban, dan berisi banyak dialog monoton yang berkepanjangan. Para kritikus pun mengkritisi film ini habis-habisan karena para aktor dan aktris pendukung film ini - yang kesemuanya adalah legenda Hollywood, bahkan beberapa adalah peraih Piala Oscar - tidak tampil maksimal.



7. WHAT TO EXPECT WHEN YOU'RE EXPECTING (2012)
Sejak mendengar film ini akan dirilis, saya sudah mengenyitkan kening : Bagaimana mungkin sebuah buku panduan persalinan bisa dijadikan film? Ini sama saja dengan mengadaptasi sebuah Resep Makanan menjadi sebuah film berdurasi 90 menit. Jelas-jelas dipaksakan. Dan pendapat saya benar !!!

Film yang diadaptasi dari Buku Panduan Persalinan dengan judul yang sama karya Heidi Murkoff dan Sharon Mazel ini dirilis tanggal 18 Mei 2012. Disutradarai Kirk Jones, film ini menampilkan kehidupan lima orang wanita muda yang baru menikah dan sedang hamil besar. Mereka kemudian bertemu dan saling berbagi pengalaman seputar kehamilan mereka.

Meski dibuat dalam bentuk komedi yang cukup menggelitik, film "penyuluhan" ini bisa dikatakan sangat berlebihan dan mubazir, karena menggunakan aktris-aktris seksi papan atas untuk bermain sebagai para ibu muda yang hamil : Cameron Diaz, Jennifer Lopez, Elizabeth Banks, Brooklyn Decker, dan Anna Kendrick. Hey... Siapa yang tertarik melihat kelima wanita seksi ini tampil dengan postur tubuh "memblendung" dan membawa bayi?

Film ini juga didukung aktor populer Hollywood yang berperan sebagai suami atau pasangan kekasih kelima wanita seksi itu : Matthew Morrison, Chace Crawford, Dennis Quaid, Chris Rock, dan Rodrigo Santoro,

Banyak pihak mengkritisi film ini karena kontennya yang serba tanggung : Tidak cukup lucu sebagai film komedi. Tidak cukup dramatis sebagai film drama. Dan tidak cukup edukatif sebagai film edukasi.



8. THIS IS WHERE I LEAVE YOU (2014)
Aslinya, novel karya Jonathan Tropper ini adalah novel yang sangat kocak sekaligus mengharukan. Tidak heran jika novel "This Is Where I Leave You" menjadi best-seller selama beberapa minggu saat dirilis tahun 2009 silam.

Alur film ini tergolong tidak lazim : Tentang seorang pria bernama Judd Altman yang pulang ke rumah setelah ayahnya meninggal. Di rumahnya, dia bertemu lagi dengan ibu dan saudara-saudaranya yang ternyata menghadapi masalah kehidupan yang sangat pelik dan kacau.

Tahun lalu, tepatnya tanggal 19 September 2014, film adatapsi novel ini pun dirilis. Disutradarai Shawn Levy - sutradara yang populer dengan film-film drama-komedi box-office, seperti Big Fat Liar, Cheaper by the Dozen, The Pink Panther, dan Night at the Museum - film ini menjanjikan sebuah tontonan yang sangat menarik. Apalagi didukung oleh para aktor dan aktris top Hollywood : Timothy Olyphant, Jason Bateman, Tina Fey, Adam Driver, Rose Byrne, Carey Stoll, Connie Britton, dan Kathryn Hahn.

Film yang seharusnya menyajikan adegan kocak sekaligus mengharukan ini ternyata hanya menjadi sebuah film drama biasa yang menjemukan. Tidak ada chemestry di antara semua pemain, menjadi alasan mengapa film ini tampak "garing" dan membosankan. Akting para pemain pun sangat datar (beberapa bagian bahkan terkesan dipaksakan), sehingga menambah kebosanan para penonton yang menyaksikan film berdurasi 103 menit ini.



9. MOVIE 43 (2012)
Semua kritikus film dunia sepakat mencap film ini sebagai film komedi-antologi terburuk yang pernah dibuat. Film ini mungkin memegang rekor sebagai film dengan Sutradara Terbanyak (13 orang sutradara), Penulis Skenario Terbanyak (22 orang), Editor Terbanyak (14 orang), dan Pengarah Sinematografi terbanyak (8 orang).

Dibuat dengan durasi 98 menit, film ini terdiri dari 14 segmen cerita pendek dan diperani oleh puluhan aktor dan aktris papan atas terkenal. Beberapa diantaranya adalah Dennis Quaid, Justin Long, Halle Berry, Charlie Saxton, Emma Stone, Julianne Moore, Uma Thurman, Kristen Bell, Mark L. Young, Richard Gere, Hugh Jackman, Kate Winslet, Kate Bosworth, Julie Claire, Elizabeth Banks, Tony Shalhoub, Anna Faris, Gerald Butler, Naomi Watts, Chris Pratt, dan lain-lain.

Tentu sangat sulit membayangkan, bagaimana bisa menikmati sebuah film berdurasi singkat yang dipenuhi dengan aktor dan aktris papan atas yang berperan di dalamnya, dengan diarahkan sekian banyak sutradara dan sekian banyak penulis skenario. Yang terjadi sudah pasti : Kacau !!!

Satu hal yang mungkin patut diacungi jempol adalah kemampuan produser film ini dalam mengatur uang sedemikian rupa, sehingga meski melibatkan banyak aktor papan atas, mereka hanya mengeluarkan biaya produksi film sebesar US$ 6 juta saja.



10. NEW YEAR'S EVE (2011)
Inilah salah satu nominasi film drama-komedi terburuk tahun 2011 (yang untungnya, "dikalahkan" oleh film Jack and Jill dalam gelaran Razzie Award 2011). Disutradarai Garry Marshall, film ini dipenuhi aktor dan aktris papan atas Hollwyood : Halle Berry, Jessica Biel, Matthew Broderick, James Belushi, Jon Bon Jovi, Alussa Milano, Robert De Niro, Katherine Heigl, Asthon Kutcher, Sarah Jessica Parker, Michelle Pfeiffer, Hilary Swank, Sofia Vergara, Abigail Breslin, Ryan Seacrest, dan Chris "Ludacris" Bridges.
Cerita dalam film yang skenarionya ditulis Katherine Fugate ini terbagi ke dalam 8 segmen cerita yang berbeda, dengan cerita yang tumpang-tindih, dan tidak saling berhubungan satu dengan yang lain. Dengan alur yang sangat datar, karakter dan dialog yang mudah ditebak, film ini terkesan sebagai kisah hidup sekelompok manusia yang datar-datar saja. Tidak ada drama yang begitu menyentuh maupun komedi yang membuat siapapun tertawa. Senyum pun mungkin tipis saja.

Kesalahan yang paling utama dari film berdurasi 118 menit ini adalah penggunaan aktor dan aktris populer yang sangat banyak. Akibatnya durasi kemunculan mereka dibuat sangat pendek. Hal ini jelas mengecewakan banyak penggemar para aktor dan aktris itu.

Disutradarai Chen Kaige, film ini diperani jajaran aktor dan aktris papan atas Hong Kong : Aaron Kwok, Wang Bao Qiang, Lin Chi Ling, Vanness Wu, Danny Chan Kwok Kwan, Lam Suet, Dong Qi, dan Chang Chen. Ceritanya diangkat dari novel best-seller berjudul sama yang ditulis oleh Xu Hao Feng, novelis dan juga penulis skenario handal di Hong Kong. Saat tayang tanggal 3 Juli 2015 kemarin, film ini langsung berada di posisi pertama tangga film Box Office China, dan di posisi keempat jajaran Box Office dunia (tepat di bawah film Terminator Genysis, Minions, dan Jurrasic World). Baru tayang 3 hari, film ini sudah meraup US$ 38.25 juta, sebuah prestasi yang luar biasa yang jarang-jarang terjadi pada film produksi Hong Kong.

 Alur ceritanya sederhana saja : Bersetting tahun 1930-an, dikisahkan He Anxia (diperani Wang Bao Qiang), adalah seorang biksu yang sudah lama tinggal di biara. Karena biara sedang krisis makanan, maka Ketua Biksu (diperani Li Xue Jian) mengadakan turnamen bela diri untuk mencari orang terkuat yang akan ditugaskan mencari makanan di kota. Dari turnamen itu, He Anxia akhirnya menjadi pemenang.

Maka berangkatlah He turun ke kota. Sepanjang perjalanan, dia bertemu dengan banyak orang, yang kemudian mengajarinya tentang arti kehidupan. Orang pertama yang ditemuinya adalah Ahli Bedah Tsui Daoning (Fan Wei) yang mendapati istrinya, Yu Zhen (Lin Chi Ling) selingkuh dengan Daorong (Vanness Wu), yang tidak lain adalah adik kandungnya sendiri.

He Anxia kemudian bertemu dengan Pendekar Zhao Xinchuan (Danny Chan) yang berduel dengan Pendekar yang juga Manipulator Ulung Peng Qianwu (Yuen Wah). Duel mereka disajikan dengan adegan perkelahian kartun yang menggelitik dan kocak sekali.

Selanjutnya He bertemu dengan Zhao Xiyu (Aaron Kwok) dari Klan Peng yang menantang duel Perguruan Tai Chi. Klan Peng dan Tai Chi sudah bermusuhan sejak bertahun-tahun lamanya, dan Zhao bermaksud mengakhiri permusuhan itu dengan menantang Perguruan tersebut duel.

Dan akhirnya, He bertemu dengan Cha (Chang Chen), sahabatnya yang seorang jagoan bela diri, namun pada akhirnya hidup menjadi pemain Opera.

Pertemuan dengan orang-orang tersebut, akhirnya mengubah pola pikir He yang sudah cukup lama tinggal di dalam biara. Dia pun kemudian belajar tentang kehidupan manusia masa kini, dan bagaimana kehidupan itu mengubah pola pikirnya yang sudah terlalu lama terkekang di dalam biara.

Sebenarnya sulit bagi saya untuk mengatakan film ini sebagai film yang menarik untuk ditonton. Berdurasi 123 menit, film ini menampilkan banyak adegan slapstik dan komedi konyol. Sehingga meski mengusung cerita inspiratif, penonton lebih terkesan pada adegan-adegan kocak di film tersebut. Tapi mungkin juga ini merupakan strategi Chen Kaige dalam memberikan pemahaman ajaran Buddha dan Tao kepada penonton. Ajaran yang berat tersebut dikemas dalam sebuah komedi yang enteng, membuat orang lebih mudah menerima esensi dari ajaran tersebut.

Sebagai sebuah hiburan, film ini sangat berhasil menjalankan misinya. Penonton bisa tertawa ngakak menyaksikan film ini. Tapi jangan pernah mempermasalahkan setiap adegan yang Anda tonton, karena adegan yang "tidak masuk akal" itu memang disengaja. Jadi... nikmati saja...


NewerStories OlderStories Home