Recommended Movie - ARPAT

Film Arpat adalah film kontroversi yang sedang jadi bahan pembicaraan hangat di Thailand saat ini. Hal ini dikarenakan tema yang diangkat film ini terbilang sangat sensitif, sehingga sangat dikuatirkan dapat menimbulkan unjuk rasa yang berujung pada kericuhan.

Film yang disutradarai Pratya Pinkaew dan Kanitta Kwanyoo, dengan diperani Charlie Traitat dan Ploy Somarin ini mengisahkan tentang seorang pria bernama Son (diperani Charlie) yang memiliki perilaku yang sangat buruk, sehingga sering bikin ulah. Ayahnya sangat malu dengan sikap buruk anaknya itu, sehingga memaksa anaknya untuk menjadi Biksu. Meski Son tidak mau, tapi mau-tidak mau dia harus menuruti perintah ayahnya.

Di biara tempatnya dididik menjadi Bhiksu (yang berlokasi di daerah pedesaan), Son bukannya bertobat tapi perilakunya semakin menjadi-jadi. Dia berkenalan dengan Fai (diperani Ploy), seorang gadis remaja yang tinggal di desa itu. Kecantikan Fai membuat hati Son tergugah. Mulailah dia mendekati Fai, dan Fai pun menyambut baik Son. Hubungan mereka yang semula hanya pertemanan, berubah menjadi hubungan kekasih yang terlarang. Puncaknya, mereka melakukan hubungan suami-istri di dalam biara.

Keduanya menyimpan rahasia hubungan tersebut rapat-rapat. Tapi rupanya tindakan mereka mengubah aura di dalam tempat sakral itu, dari yang semula tenang dan damai, berubah menjadi kengerian dan ketakutan. Banyak kejadian aneh terjadi dan menghantui para bhiksu di dalam biara tersebut. Bahkan Fai pun tiba-tiba mengalami perubahan perilaku dan berubah bukan dirinya lagi.

Saat para bhiksu kebingungan dengan perubahan yang terjadi, ternyata banyak roh jahat yang sedang mengintai Son dan berusaha menghabisinya. Akankah Son dan Fai mampu menghentikan gangguan roh jahat tersebut?

Masyarakat Thailand sempat berang dengan film ini. Para pengikut Buddha bahkan melayangkan protes keras ke Dewan Badan Sensor Film Thailand, dua hari sebelum film ini dirilis, menuntut film ini dilarang peredarannya. Jika tidak, mereka akan melakukan demo besar-besaran, yang dapat berujung kericuhan. Kondisi Thailand saat itu sempat memanas terkait rencana peredaran film ini.

Setelah berdiskusi cukup intensif, Dewan Badan Sensor Film Thailand akhirnya memutuskan untuk tetap meluluskan perilisan film itu, dengan meminta produser film melakukan pemotongan beberapa adegan (dengan total durasi 2 menit), sehingga film yang awalnya berdurasi 88 menit itu diizinkan tayang dengan durasi 86 menit. Emosi masyarakat Thailand berhasil diredam, setelah pihak produser melakukan pertemuan dan negosiasi dengan para pemuka agama setempat.

Ketegangan dan kontroversi seputar perilisan film itu ternyata berbuah positif. Masyarakat justru menjadi penasaran dengan hasil akhir film ini setelah mengalami re-edit dan pengurangan waktu tayang sepanjang 2 menit. Tidak heran, ketika tayang 15 Oktober 2015 silam, film ini langsung meraup keuntungan lebih dari 15.72 juta Bath (US$ 1,6 juta) hanya dalam satu hari tayang. Hasil itu membuat film ini menempati posisi kedua tangga Box Office Thailand, tepat di bawah The Last Witch Hunter yang meraih pendapatan sebesar US$ 2.2 juta.


DO YOU KNOW? 
Selain temanya yang sangat kontroversi, banyak adegan dalam film ini pun yang kontroversi dan menuai kritikan keras dari berbagai pihak. Beberapa diantaranya yang paling ekstrim : Adegan ciuman bhiksu dengan seorang gadis, adegan bhiksu minum minuman beralkohol, bhiksu merangkul pinggang seorang gadis, bhiksu memegang kepala patung Buddha, dan tempat duduk bhiksu yang diinjak dengan sepatu kotor.

Awalnya, film ini berjudul Arbat, dari bahasa Thailand yang berarti "hukuman keagamaan bagi orang yang melanggar aturan Ajaran Buddha". Namun setelah menuai protes keras dari masyarakat Thailand (karena kata itu adalah kata sakral yang tidak etis dipakai sebagai nama produk hiburan), judul film ini diubah menjadi Arpat, bahasa Pali yang artinya sama.

Ketika film ini ditayangkan, muncul protes keras dari para penonton yang menuntut adegan 2 menit - yang disensor Dewan Badan Sensor - dimunculkan lagi. Menurut mereka, adegan tersebut ternyata sangat penting dan punya korelasi dengan keseluruhan cerita film. Lebih dari 100,000 orang menanda-tangani petisi online yang kemudian dikirim ke Dewan Badan Sensor Film Thailand, menuntut film itu ditayang ulang dengan menambahi adegan 2 menit yang telah dibuang.

Charlie Traitat - pemeran Bhiksu Son - aslinya beragama Katolik.

Shooting dilakukan di beberapa daerah pinggiran Thailand, seperti Distrik Nakhon, Ratchasima, dan Nakhon Nayok. Nakhon Nayok merupakan lokasi shooting paling angker di antara semua tempat. Selain karena lokasinya yang sangat terpencil, distrik itu memiliki banyak desa dengan perumahan dan bangunan tua yang terbuat dari kayu. Nakhon Nayok juga memiliki banyak pohon besar yang sudah berusia tua, sehingga menimbulkan suasana seram di malam hari.

NewerStories OlderStories Home

0 comments:

Post a Comment