Movie Review - THE HAUNTED HOUSE PROJECT (폐가 )

Fenomena kesuksesan film bergenre "found footage" dalam beberapa tahun belakangan ini menjadi tren di seluruh dunia. Hal ini dikarenakan pembuatan filmnya yang relatif sangat murah, namun hasil yang diperolehnya sangat besar. Lewat film "found footage", penonton digiring untuk mempercayai film yang mereka tonton merupakan rekaman dari sebuah kejadian menakutkan. Hal ini sangat berdampak pada psikologi penonton, di mana mereka jadi ikut merasakan "kejadian menakutkan" yang dialami oleh orang yang "merekam" kejadian tersebut. Sensasi menonton film demikian membuat banyak orang yang tertarik untuk menonton film "murah-meriah" tersebut.

Meski sensasi "nyata" menjadi hal yang menarik saat menonton film "found footage", tidak berarti menonton film ini tanpa konsekuensi. Karena film jenis ini menampilkan adegan rekaman video dari pembuat film "amatir", maka penonton akan sering menyaksikan adegan yang kabur, bergerak-gerak, dan tidak fokus. Buat penonton awam, adegan demikian tentu akan sangat bikin frustrasi (bahkan ekstrimnya : Bikin sakit kepala dan perut). Tapi bagi penonton yang sudah terbiasa menonton film demikian, hal ini dapat menimbulkan sensasi tersendiri, di mana mereka bisa berimajinasi tentang kejadian yang terjadi saat itu.

Melihat kesuksesan film bergenre ini, banyak sineas (termasuk sineas ternama sekalipun, seperti J.J. Abrams) tertarik untuk membuatnya. Tidak hanya sineas Hollywood saja, banyak sineas dari berbagai negara pun turut membuat film jenis ini. Salah satunya adalah sineas Korea Selatan, Lee Chul Na, yang tanggal 2 Desember 2010 silam merilis film bergenre "found footage" berjudul "The Haunted House Project" atau dirilis dengan judul lain "Deserted House".

Secara umum, film ini mengisahkan tentang misteri yang menyelimuti sebuah pabrik tua di sebuah desa kecil di propinsi Gyeonggi, di mana 42 tahun silam dikisahkan pemilik pabrik itu berselingkuh dengan sekretarisnya. Perselingkuhan itu diketahui oleh istrinya, hingga membuat mereka bertengkar hebat, sampai-sampai seluruh desa mendengar pertengkaran mereka tersebut. Sehari pasca pertengkaran itu, sekretaris pemilik pabrik itu menghilang. Banyak rumor yang mengatakan kalau sang sekretaris diculik dan dibunuh oleh orang-orang suruhan istri pemilik pabrik. Mayat sang sekretaris kemudian dikubur di halaman samping pabrik.

Beberapa hari setelah itu, dikabarkan pabrik menjadi gempar karena sering melihat adanya penampakan sekretaris pemilik pabrik tersebut. Tidak hanya penampakan, beberapa pekerja mengalami kesurupan, bahkan beberapa di antaranya meninggal.

Sang pemilik pabrik lalu memanggil Pengusir Setan untuk menyucikan lokasi pabrik. Tapi sang Pengusir Setan justru tewas terbunuh. Setelah melihat hal itu, sang pemilik pabrik - yang belakangan mengetahui lokasi penguburan sekretarisnya - bermaksud membongkar tempat penguburan tersebut dan memindahkannya ke tempat lain. Namun justru orang-orang yang membongkar tempat itu tewas.

Sejak kejadian itu, tidak ada orang yang mau bekerja di pabrik itu. Pabrik itu pun akhirnya tutup, dan kini menjadi gedung rusak tidak berpenghuni. Meski demikian, kabar tentang hantu sekretaris yang meninggali gedung itu masih menjadi buah-bibir penduduk sekitar. Tercatat selama kurun waktu 42 tahun, telah ada 6 orang hilang, 3 orang meninggal secara misterius, dan 11 kasus pembunuhan misterius yang terjadi di dalam gedung tua tersebut.

Tahun 2010, 6 orang - terdiri dari 3 orang anggota Klub Penyuka Rumah Hantu dan 3 orang kru televisi lokal - membuat film tentang gedung tua bekas pabrik tersebut. Namun mereka berenam dinyatakan hilang setelah memasuki gedung tersebut. Tiga bulan pasca kehilangan mereka, polisi tidak berhasil menemukan jasad mereka sama sekali. Hanya menemukan rekaman video selama mereka berada di dalam gedung. Dan rekaman itulah yang kemudian ditonton oleh para penonton di film "The Haunted House Project" ini.

Sebenarnya di awal-awal, film ini telah berhasil membangun suasana misterius yang bikin penasaran penonton. Sayangnya, kemisteriusan tersebut dihancurkan Sutradara Lee Chul Na, membuat penonton merasakan ilfil tingkat tinggi saat menonton film berdurasi 84 menit ini. Akting para pendukung film ini (Shin Kyung Sun, Yoon E Na, Jun In Kul, Lee Hwa Jung, Hyun Tae Ho, dan Shin So Yul) terbilang sangat parah. Sepertinya mereka terbiasa berakting di film-film berskenario, dengan alur cerita yang jelas. Karena itu, ketika harus berakting natural di film tanpa struktur cerita yang jelas, mereka sangat kebingungan. Tampak sekali mereka berusaha tampil serealistis mungkin, tetapi gagal dan tidak mampu berimprovisasi dengan baik.

Hal lain yang cukup mengganggu adalah pengambilan gambarnya yang selalu "berhasil" menyajikan gambar-gambar dengan "angle" atau posisi yang baik. Sutradara Lee Chul Na sepertinya lupa kalau film yang dibuatnya adalah film berjenis dokumenter dari sudut pandang para pemeran filmnya. Jadi sangat tidak mungkin film demikian bisa mendapatkan sudut pengambilan gambar yang baik dan "sempurna". Hal ini tentu saja langsung menghilangkan "sensasi" yang ingin dibangun, karena penonton sudah menyadari kalau film yang mereka tonton adalah bohongan dan semuanya murni settingan belaka.

Selanjutnya, semuanya sudah dengan sangat mudah terbaca, dan Anda yang awam pun sudah bisa menebak setiap adegan yang akan terjadi di film tersebut. Pakem cerita yang disajikan akhirnya menjadi sangat standar, dan membosankan.

Nilai plus yang bisa saya berikan untuk film "The Haunted House Project" adalah pada keberanian para kru film menggunakan lokasi pengambilan gambar di dalam gedung tua yang sudah sangat bobrok dan setiap saat dapat rubuh. Risiko yang diambil para kru sangat besar. Beruntung saja jika sepanjang proses pembuatan film, tidak satu pun dari mereka yang mengalami kecelakaan di lokasi shooting.


NewerStories OlderStories Home

0 comments:

Post a Comment